Alamat Email

 

email1

 

Pengalaman saya tentang alamat email.

1.Berhubung dulu kerja di persh jasa telekomunikasi yang salah satu jasanya adalah Internet Service, ketika Internet nyampe di Indonesia sekitar tahun 1994- 95, kami para pegawai segera dapat alamat email , disamping juga ngerasain ‘jendela dunia baru’ bernama browser Netscape dan chatting IRC.

Kalau ketemu teman kuliah, selain catat nomor HP, tukeran alamat email jadi kebiasaan baru. Nggak perlu yaa sekarang tukeran alamat rumah. Dan alamat email juga nggak ngandelin email perusahaan dong, kan kalau sama teman urusannya pribadi. Saya buat banyak banget alamat email pribadi dari account gratisan. Manajemen password mulai diterapkan biar gak ketuker-tuker.

Pernah suatu ketika saya conference call dengan dua orang teman kuliah. Ngobrol sanaa ngobrol sini … ujung ujungnya ketika mau mengakhiri pembicaraan saya dan salah satu teman saling tukeran alamat email.

“Catet yaa .. email gue ningsih@ bla bla bla …” kata saya.

“Ni, email gue … ,” kata teman saya sambil menyebutkan alamat emailnya.

Di tengah acara tuker-tukeran alamat email saya tanya sama teman saya satu lagi

” Eh , elu ada alamat email ?” tanya saya

Teman saya yang juga kerja di perusahaan telekomunikasi yang kantornya tersebar di mana-mana, dan dia kebetulan ditempatkan di Pantai Cermin Medan dengan polosnya berkata . ” ehmmm… email itu apa, ya ?”

Disangkain kali saya mo kasi tau alamat  rumah baru saya di Kompleks Email, selain yang di Kompleks MPR …xixixixi… Mentang-mentang jauh nyempil di Pantai Cermin sampai-sampai kantor pusat lupa kasih email address buat dia.

Pada hari itu ternyata teman saya ini masih bermain-main dengan pita-pita kuning dari mesin telex yang kadang-kadang dijalin jadi seperti kulit ketupat … kadang-kadang jadi uler-uleran🙂

 

2.Seperti nature-nya suatu bisnis, siapa pegang infrastruktur dialah yang akan menguasai pasar. Begitu juga untuk internet. Banyak perusahaan ISP baru yang muncul menawarkan koneksi ke internet. Kalau untuk pribadi ditawarkan pakai dial-up, untuk perusahaan biasanya pakai leased line.

Nggak kebayang dulu leased line 64kbps aja udah dibilang high-speed dan dijadikan host. Untuk antar node pakai 2 Mbps. Kalau sekarang, 2 Mbps  dipakai untuk satu rumah bukan hal mewah bagi sebagian orang. Jangankan satu rumah, satu handset aja bisa dapat kecepatan koneksi internet dalam hitungan MegaByte.

Balik lagi ke cerita dulu, ketika infrastruktur dirasa kuat, muncul perusahaan-perusahaan content. Tentu saja kantor saya yang pegang infrastruktur juga bikin semacam divisi untuk content.( Baydeway, saya sudah pindah ke perusahaan telekomunikasi yang lain). Sepertinya tahun 1998-an bisnis content mulai menjamur. Perusahaan DotCom , dibilangnya.

Ini ada cerita dari teman yang kerja di salah satu perusahaan DotCom sekitar tahun 2000-an . Ceritanya mereka mau bikin website suatu kabupaten. Jaman itu bersamaan dengan giat-giatnya otonomi daerah oleh Prof Ryas Rasyid dan Andi Malarangeng sebagai anak buahnya, banyak daerah pingin tampilin profile daerahnya lewat website. Salah satu narasumber teman adalah seorang anggota DPR.

Seperti biasa, untuk melanjutkan komunikasi diperlukan alamat email.

Teman bertanya sama orang DPR itu” Pak, punya email ?, boleh saya minta ?”

Nggak tau ini orang PDL (Pongah Dari Lahir), atau karena anggota DPR yang nggak mau dibilang nggak ngerti apa yang ditanya, dia lalu  nyaut ,” OOO… dulu saya punyaa, tapi sudah dijual , Dik !”

Wak ! … laku brapa ,yaa oom ? …Jangan-jangan dianggap alamat email  sama dengan perangkat lenongnya dia, bisa dijual kalo lagi sepi order.

 

3. Kemudian,setelah lama bekerja beberapa teman memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri. Namanya perusahaan tentu perlu istilah yang sering masuk koran ketika membahas SBY, yaitu PENCITRAAN.

Sebagai perusahaan baru, biasanya pencitraan paling murah adalah lewat kartu nama dan website. Kartu nama harus sinkron dong sama website, kan disitu akan ditulis alamat website dan alamat email.

Ada yang mau keluarin uang buat beli domain name, dan memang seharusnya begitu. Kan, kalau sudah beli domain name,  dia bisa punya email sesuai domain perusahaanya.Tapi ada juga yang cuek beybeh pakai blogspot atau wordpress gratisan. 

Tapi banyak lohh yang cantumin free email address di kartu bisnisnya. Apakah itu salah ? yaa enggak laaa … secara perusahaannya juga baru, menapak dikit-dikit dimulai dari yang gratisan, nggak salah dong.

Saya punya teman yang setiap ketemu kasih kartu nama baru . Nggak setiap ketemu siihh … tapi perusahaannya ganti-ganti mulu.

“Eh ..ini kartu nama gue yang baru, ya ,” kata dia sembari sodorin kartu nama dengan title ‘Direktur’ di bawah nama lengkapnya.

“Oww… yang lama masih berlaku, nggak  ? Asik nih banyak perusahaan,” komentar saya.

“Eh tapi … maap yaa .. alamat emailnya masih pake YAHOO …” kata dia malu-malu. Mungkin sebelumnya pernah ada yang komentar, sebelum dikomentarin saya, dia udah declare duluan. Setidaknya dia sudah sadar mengenai ‘pencitraan’ , prasangka baiknya dia belum ketemu di mana bisa beli domain atau belum ketemu nama yang cocok buat domain perusahannya.

Namanya juga baru merintis perusahaan baru, aci-aci aja kali,  lha wong saya pernah dapat kartu nama resmi pejabat  salah satu bank nasional yang mencantumkan email yahoo di kartu namanya. Ini bukan kartu fancy hello kitty yang biasa dibuat di mall, tapi bener-bener kartu nama perusahaan resmi  dengan logo tercetak di bagian atasnya.

PENCITRAAN ?? siapa takut ? (maksudnya siapa takut malu dibahas masalah email gratisannya di milis ..he he )

 

*Pengakuan :

Tulisan ini diilhami oleh cerita Komisi 8 yang fenomenal itu. Bukan maksud mengolok, tapi kok ya pengalamannya ternyata beda-beda tipis sama pengalaman saya.

SAya nggak ikutan jadi hadirin waktu itu, cuma baca laporan dari blog-nya Cipu,  Kompasiana dan beberapa reportase online . Sesungguhnya buat saya kalau Komisi 8 dari awal bisa menjawab dan menjelaskan pertanyaa-pertanyaan dengan bahasa yang masuk di logika para hadirin, bisa meyakini hadirin bahwa alasan studi banding dengan alasan yang tepat, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, maka ‘insiden’ ini gak perlu timbul,  apalagi dengan memberikan ‘alamat email’ yang salah. Pada saat ada kesempatan bertemu ‘rakyat yang diwakili’ kok waktu dipepet-pepet cuma sampai jam 9 malam, kalo belum puas, lanjuutt maang … gitu dong… jam 9 malam mah anak dugem juga belum pada selesai dandan, belum pesen taksi.

Sekarang malah timbul tuduhan kalau peristiwa itu ditunggangi sama partai tertentu …”Ditunggangi ” .. ha ha  seperti mendengar istilah dari masa lalu. Orba banget , eh atau kosa kata yang biasa dipakai di “Nah Ini Dia” -nya Pos Kota, ya …

He he ..no offense.

2 thoughts on “Alamat Email

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s