Ho Chi Minh City Lima Hari – Lanjutan

Memang,  apa yang saya lihat lima hari di Vietnam adalah kesederhanaan dan kebersahajaan. Tapi mereka berhasil mengolah objek yang sederhana sehingga banyak orang datang ke sana.  Dua tempat di luar kota yang saya datangi yaitu Chu Chi Tunnel dan Delta Sungai Mekong dapat mewakili kesederhanaan yang diracik dengan brilyan sehingga mengalirkan Dolar dan Dong tiap menitnya.

Chu Chi Tunnel

Chu Chi Tunnel, kalau orang sana yang ngomong kedengarannya seperti [Gu-Chi], merupakan daerah wisata sejarah. Di sana memang cuma ada terowongan-terowongan bawah tanah dan replika kejadian perang di area tanah merah kering. Kalau kita datang ke sana tanpa tahu background cerita tentang apa yang telah terjadi di sana, memang jadinya nggak seru. Mangkanya, ketika baru masuk ke area Chu Chi Tunnel kita terlebih dahulu diberi presentasi mengenai Perang Vietnam dan apa yang terjadi di Chu Chi Tunnel.

Iya, tidak dipungkiri, mereka memang menjual romantika perang Vietnam. Lihatlah betapa kejamnya Amerika. Lihatlah betapa menderitanya orang Vietnam. Lihatlah betapa cerdik dan beraninya orang Vietnam sehingga Amerikapun tidak bisa menaklukkan Vietnam. Cerita seperti itulah yang menjadi background pariwisata di sana, dan berhasil memikat turis, khususnya mereka yang datang ke HCMC.

IMG_2920

Lubang Persembunyian. Bonus buat tentara Vietnam, yang muncul cewe cakep dari Amrik.

Kebanyakan yang pergi ke Chu Chi adalah yang ikut rombongan tour. Pimpinan rombongan tour bener-bener seperti gembala karena pada saat yang bersamaan akan banyak rombongan tour dari bermacam-macam travel agen. Mereka harus menjaga agar rombongannya tidak tercecer. Jangan heran kalau di sana akan sering kita dengar ada orang teriak-teriak  “MY GROUP…MY GROUP …!!”

Di area Chu Chi kita akan melihat senjata-senjata tentara dan rakyat Vietnam semasa perang, lengkap dengan jebakan perang yang hmmm… kalo dibayangin ..sadis mak ! Ada juga pesawat Amerika yang berhasil dijatuhkan tentara Vietnam nggak tau itu replikanya atau bukan, kayaknya sih beneran.

Puncak acara kegiatan di Chu Chi Tunnel adalah masuk ke tunnel nya itu sendiri. Pada saat presentasi kita lihat penampang dari tunnel/terowongan. Terowongan dibuat dalam empat tingkat dengan bermacam-macam kegunaannya. Untuk mendapatkan udara dibuatkan pipa-pipa yang menembus sampai ke permukaan bumi. Di permukaan , pipa-pipa tersebut disamarkan supaya musuh tidak tahu.

IMG_2893

Tour Leader lagi jelasin cara bertahan hidup di terowongan

Keluar dari terowongan kita disambut dengan suara  tembakan…uihhh…. Apakah kita sampai di medan perang yang sebenarnya ? Waduh, lupa pake topi baja , nih🙂 he he .. Ternyata bunyi tembakan berasal dari turis-turis yang mau nyobain gimana sih caranya menembak. Di situ memang disewakan beberapa senjata dan juga kita bisa membeli paket peluru. Tapi kalau nggak salah jumlah peluru minimum yang bisa dibeli itu 50 butir … halah.. cape amat ngehabisinnya !

Di tempat sewa tembakan itu para turis beristirahat setelah teler menyelusuri terowongan. Di sana saya beli semacam ting-ting atau apa ya namanya di sini, kacang mede yang dikasi gula merah lalu dialasi semacam kerupuk tawar , enak deh. Sayang belinya cuman dikit. Kalau ada yang ke sana nitip dooonng🙂

Oya, yang pernah makan lumpia vietnam musti tahu bahwa kulit lumpia yang namanya bahn trang itu jaman dahulu dibuat dengan cara tradisionil yang cukup unik. Ada petugas yang memperagakan bagaimana cara pembuatannya. Sekedar catatan, bahn trang, atau rice paper, sebagaimana namanya dibuat dari adonan tepung beras. Adonan tepung beras yang dibuat sangat encer itu lalu dipanaskan dengan pan yang mirip banget dengan yang kita lihat di stall crepes. Setelah dipanaskan menjadi lembaran tipis berbentuk lingkaran, bahn trang lalu dijemur dengan menggunakan ,orang Jawa bilang, gedhek, yaitu anyaman bambu yang juga biasa dijadikan dinding rumah di pedesaan. Bahn trang dibuat kering supaya awet disimpan. Di sana saya nggak beli bahn trang karena penjualnya menghilang, ketika di airport harganya sudah berlipat-lipat.

IMG_2985

Demo bikin bahn trang

Delta Sungai Mekong

Sungguh, kalau kita subjektif pada tempat dengan mengatakan tempat itu  ‘bagus’ atau ‘jelek’, kita cenderung akan bilang Delta Sungai Mekong gak ada apa-apanya dengan apa yang kita punya di Indonesia, alias to de point bilang ‘jelek’. Apalah istimewanya sungai yang airnya cokelat butek dengan pohon-pohon bakau di kiri kanannya ? Apalah istimewanya peragaan membuat dodol kelapa ?… Tapi, harus saya akui, begitu istimewanya orang yang ngurus pariwisata VIetnam sehingga  bisa membuat hal yang sederhana ini menjadi obyek turis yang tiap menit ada aja rombongan turis datang ke sana.

Untuk mengunjungi Delta Sungai Mekong kita harus punya waktu 1 hari penuh. Kita akan dibawa ke suatu dermaga, lalu naik kapal kayu bermotor yang tidak ada pelampung buat penumpang. Hati ini antara deg-degan dan sok yakin tidak akan terjadi sesuatu ketika kita menyelusuri sungai Mekong yang airnya lumayan deras itu. Kemudian kita tiba di suatu tempat dimana ada sekelompok orang  yang sedang membuat coconut candy alias dodol kelapa. Mereka memperagakan bagaimana cara membuka sabut kelapa, memarut kelapa lalu mengolah kelapa dan gula untuk dijadikan dodol. Buat saya dan sepasang suami istri dari Malaysia, ya ampun hal kayak gini aja kok diperagain. Tapi hey, lihat si bule-bule itu yang tersihir oleh eksotisnya pembuatan ‘coconut candy’. Para turis bule dari Eropa dan Australia melihat sesuatu yang ‘lain’ dari yang biasa mereka temui sehari-hari.Saya kemudian memandang hormat terhadap orang-orang Vietnam ini yang sudah berusaha semaksimal yang mereka punya untuk memperagakan secara jujur kesederhanaan mereka yang ternyata memancing minat orang untuk datang ke sana.

Bagian yang menarik dari tour Sungai Mekong adalah ketika kita  kembali ke perahu dengan menggunakan sampan kecil. Sampan yang kita naiki di’nakhodai’ oleh perempuan-perempuan langsing Vietnam, berisi empat orang penumpang. Dengan lincah dan semangatnya sang nakhoda mendayung menyelusuri anak Sungai Mekong yang berliku-liku. Kadang-kadang dia memberi jalan buat sampan yang mencoba menyalip, kadang-kadang dia cari kesempatan buat nyalip di tikungan.

Ketika sampai di perahu dan kami naik satu per satu ke perahu, saya melihat tour leader memberikan tips buat ibu-ibu nakhoda sampan. Ow, lumayan ya ibu-ibu , bisa buat nambah-nambahin belanja bulanan🙂

Lanjut …..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s