Ho Chi Minh City Lima Hari

Ini gara-gara Airasia iklan besar-besaran bulan Agustus 2009 soal penerbangan langsung dari Jakarta ke Ho Chi Minh City. Saya dengan semangat bela-belain begadang buat online karena kan desas-desusnya situs Air Asia suka nge-hang kalo kita reservasi di jam kerja. Malam itu saya nggak ada kesulitan untuk akses ke situs Airasia, semuanya lancar dan saya ambil reservasi untuk bulan februari 2010. Dan selanjutnya ternyata reservasi di jam kerja juga sekarang gak ada masalah mengenai respon time situs tsb. Dari harga di iklan Rp 199.000/orang/flight, tagihan kartu kredit saya bulan depannya dengan sukses langsung bertambah sebesar Rp 1.332.400 untuk tiket pp 2 orang dengan tambahan tax, bagasi, pesan makan dan asuransi. Huhuhu lumayanlah, perjalanan yang murah meriah mengingat kalau pulang kampung ke Makassar paling cuma buat 1 orang pp aja.

Enam bulan menunggu saya pakai buat cari informasi soal HCMC. Browsing Google, Wiki, blog walking, Google Earth, browsing info di milis jadi pekerjaan sehari-hari. Kadang-kadang saya pingin waktu dilipat cepat sehingga kami bisa segera pergi, karena pekerjaan cari info ini seperti gak ada habisnya.

Dari info interesting places di HCMC, info hotel, tempat makan yang halal, merembet ke kota-kota mana yang sekalian bisa kita datangi.  Saya kepincut Hanoi. Apalah artinya pergi ke Vietnam kalau nggak menyelusuri Ha Long Bay ? Cerita soal Old Quarter bikin saya deg-degan pingin ke sana juga. Saya lalu cari info perjalanan dari HCMC ke Hanoi yang alamaaakk …ternyata luama banget kalo naik kereta sebanding dengan mahalnya kalau kita naik pesawat. Apakah saya harus melupakan Hanoi untuk kali ini ? Haruskah saya bilang selalu ada next time buat Ha Long Bay ? Dengan masih berharap saya bisa pergi ke Hanoi, saya juga mencari alternatif itinerary lain.

Nah, kalau ke Hanoi kejauhan, saya cari yang lebih deket dan katanya paling rekomended yaitu ke Hoi An, kota tua yang eksotis. Tapi kemudian saya switch gimana kalau pergi ke Kamboja, jalan-jalan ke Siem Reap atau mungkin cuma nyangkut di Pnom Penh. Semua informasi yang begitu banyak bikin saya pingin sekalian ke sini, pingin sekalian ke situ…halah …halah …padahal perjalanan saya cuma 5 hari saja. Nyesel cuma 5 hari ? OMG, kenapa jadi pusing-pusing begini ?

Kayaknya saya musti ngebatasin diri. Harus realistis dengan waktu 5 hari ini. Saya ambil berangkat Senin dan pulang Jumat karena saya pingin Sabtu Minggunya masih bisa dipakai jalan-jalan sama anak-anak saya. Jadi 5 hari adalah paling optimum buat kondisi saya.

Apa perlu saya pergi ke suatu tempat yang lama perjalanannya pulang pergi dari HCMC bisa seharian, sementara kota HCM nya sendiri belum saya explore ? Apalagi efektif waktu perjalanan sebenarnya cuma 4 hari. Kalau tulang saya masih muda mungkin bisa marathon ke sana ke mari, tapi mengingat umur , c’mon ngapain terlalu diforsir. Ini lagi liburan, manfaatin dong tapi jangan buat badan remuk karena pingin sekalian ke sini, sekalian ke situ. Kalau kita gak bisa sekalian pergi ke suatu tempat, bilang aja  selalu ada kosa kata ‘next time’. He he …kayaknya akal sehat saya sedikit mulai aktif.

Ini adalah perjalanan pertama ke luar negeri yang pakai duit sendiri. Saya musti ngitung setiap rupiah yang keluar karena gak bisa di-reimburse ke kantor seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya yang selalu dalam rangka tugas. Emang siapa lo ,jalan-jalan sendiri eh minta reimburse ..heuheuhue …. Musti dicari info perjalanan dari airport HCMC ke hotel, karena gak ada yang bakalan jemput, sekali lagi, emang siapa lo ? Musti cari sendiri hotel yang murah reasonable dekat ke mana-mana. Semuanya musti sendiri, sampai rencana perjalananpun saya susun sendiri karena suami saya bilang terserah mau ke mana ….HUhu…kayaknya dia malas mikir mangkanya semua ditimpain ke saya. Tapi gak pa pa, saya menikmati juga ternyata,mesti suka bikin nyut-nyut kepala.

BUISH (Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta)

Ketika hari H tiba, saya masih berdebat kecil apakah kita ke terminal 3 atau terminal 2. Biasa deh, saya yang sok well-informed ini merasa semua penerbangan Airasia menggunakan terminal yang baru. Tapi suami saya bilang terakhir  dia naik Airasia sepertinya lewat terminal internasional yang biasa. Tapi untung deh akhirnya saya nurut sama suami, jadi gak kesasar sampai ke terminal 3.

Proses check-in gak makan banyak waktu. Petugas Airasia di BUISH cekatan banget dan helpful. Mereka membimbing kami menggunakan kiosk check in yang seperti mesin atm itu. Mereka juga nggak nimbang hand carry bagasi. Mungkin dengan sekali pandang mereka udah bisa perkirain beratnya tas …hebat nian.

Proses di loket fiskalpun gak lama. Siapin aja fotocopy NPWP. Free fiskal dan bayar satu juta rupiah akan jadi kenangan. Oiya…dulu uangnya lari ke mana yaa ? temennya Gayus yang kerja di bandara ? …upss… *intermezo*

Pertama Kali dengan Airasia

Ini memang kali pertama saya naik Airasia, penerbangan yang sudah membawa teman-teman backpacker dan flashpacker terbang ke mana-mana. Everybody can fly , katanya. Saya gak perlu lari-lari berebutan tempat duduk, bukan lagi naik angkot, kan ? karena waktu check in kan udah dapat nomornya masing-masing. Sepertinya kalau kita reservasi bersamaan, maka duduknyapun bisa berdekatan. Jadi ketika reservasi online mending kita nggak perlu buang duit buat pilih seat.

Naik Airasia memang bagus banget buat latihan tulang punggung supaya tetap dalam posisi tegak. Cocok buat latihan jadi pragawati …ehh…masih ada emang istilah pragawati ? model kali yaa sekarang ….huehuehe… gue jadul banget yak ! Tapi saya nggak tau kenapa pramugari Airasia bilang supaya penumpang untuk menegakkan sandaran kursi ? Emang bisa dibuat agak tidur ? Saya cuma berhasil membuat sudut di bawah 5 derajat dari posisi tegak , itupun dengan susah payah mengerahkan tenaga !

HCMC I’m Coming

Di atas awan-awan sore hari yang cantik bersemburat merah senja yang lalu pelan-pelan bergradasi ke warna gelap, kami  menempuh perjalanan selama 3 jam dari Jakarta ke HCMC. Penumpang saat itu nggak banyak. Rata-rata orang Indonesia. Heran deh, emang nggak ada ya orang Vietnam yang abis jalan-jalan ke Jakarta ? Kayaknya memang sasaran Airasia itu orang Indonesia, karena kejadiannya sama ketika kami pulang.

Tiba di Bandara Tan Son Nhat seperti juga bandara yang lain, kita musti masuk jalur pemeriksaan imigrasi yang untungnya gak tanya macam-macam.Males kali mereka ngomong bahasa Vietnam nanti kitanya gak ngerti, ngomong bahasa Inggris juga susah …hehehe….Setelah itu saya menukar uang di money changer, masih di bandara. Kurs semua money changer sama. Satu USD sekitar 20.000 dong. Atau kalau mau itungan cepet, 1 rupiah sama dengan 0.49 dong. Seribu dong hampir sama dengan lima ratus rupiah. Nggak usah pakai kalkulator. Daripada ngitung njelimet pakai koma-koma , digenapin aja, beda tipis gak apa lah.

Di luar bandara kita bisa pilih taksi. Waktu itu  saya pilih taksi yang bagus aja, nggak tau namanya apa. Setelah saya amati, yang bagus itu taksi Vinasun dan Mai Ling (kalo ga salah atau deket-deket deh ejaannya begitu ). Keluar dari bandara saya sudah antisipasi yang katanya akan disambut sama motor yang amat banyak. Ternyata itu bukan isapan jempol belaka , motor di sana bukan sekedar banyak, tapi buaaaannnnnyaaaakkkk ….buanggeeetttt…..

Palu Arit

Tau akibatnya kalau kita mengibarkan bendera palu arit di Jakarta, atau di Indonesia ? Komunis ! Iya, kita akan dibilang komunis ! Orang Indonesia paling anti kalau dibilang komunis, tapi di HCMC itu bukan masalah. Bendera palu arit di mana-mana. Itu karena mereka negara yang menganut paham Komunis.

Rata-rata pengertian orang Indonesia tentang Komunis adalah atheis, minimal saya deh mikirnya begitu. Tapi memang begitu, kan yang diajarkan ke kita-kita pada jaman masih ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila)atau PSPB , kayaknya sekarang jadi pelajaran PKN (CMIIW)  mengenai bahaya laten komunis yang atheis. Aduuh…..ketauan banget deh gue termasuk golongan orang-orang jadul ngomongin PMP, PSPB segala.

Berada di negera yang dengan bebas mengibarkan bendera palu arit di mana-mana, saya agak terkesima ketika pak supir taksi bilang mayoritas penduduk beragama Budha, sebagian Kristen, sebagian kecil banget Islam yang kebanyakan orang pendatang dari India atau Malaysia. Komunisnya beragama ?

Tepok jidat! Baru nyadar kalau saya adalah produk kisah sukses Orde Baru memberantas komunisme di Indonesia. Orang Indonesia yang beragama ini kan paling takut kalo dibilang atheis, meskipun de facto ada juga yang atheis (kali loh nggak nuduh). Mangkanya kita didoktrin bahwa komunis adalah atheis, biar cepet ngejelasin ke rakyat dan rakyat setuju, daripada ngebahas definisi bla bla bla mengenai paham komunis yang malah bikin bingung. Hidup Orde Baru ! (untuk hal yang satu ini). Eh ya … kalo mo komen serius mendalam detail ngebahas komunis-atheis-ordebaru, silakan cari site lain yang serius ngebahas masalah ini, ya.

 Distrik I – Distrik Turis

Sebelum berangkat saya mencoba reservasi ke Holiday Hotel (holidayhotelsaigon.com). Mau reservasi online sudah nggak bisa. Saya kemudian kirim email ke bagian marketing untuk reservasi. Saya nggak perlu bayar duluan, meski sampai di sanapun saya baru bayar ketika akan check-out hari terakhir. Saya bayar 33USD untuk superior room. Kayaknya hotel bukan masalah di HCMC. Di distrik I ini banyak banget hotel. Kalau mau cari yang lebih murah kayaknya juga banyak. Jadi bisa aja kita reservasi 1 hari aja dulu sebelum cari yang lebih murah.

Hotel yang saya tempati ini berada di Distrik I. Saya nggak begitu jelas ada berapa distrik di HCMC, kata tukang taksi ada banyak distrik (kalo mo tau berapa distrik, googling aja).  Distrik I sepertinya memang distrik turis. Jalanannya tertata rapi dengan trotoar yang lebar-lebar.  Pertokoannya model butik, kayaknya pengaruh Perancis yang pernah mejajah Vietnam sangatlah besar.

Sejenak saya membayangkan Jakarta memiliki area khusus turis. Misalkan dipetakan dari Bunderan HI, Sarinah, Sabang, sekitar Pasar Baru, Monas, Istiqlal, Kathedral, Kantor Pos Besar lalu bergerak ke arah  Kota Tua Glodok dan sekitarnya lalu sekitar Pasar Ikan, Musium Bahari, Mercusuar,  Jembatan Merah  ditata dengan rapi, dibangun trotoar yang lebar, dibuat sebagai area daerah tujuan turis. *Cuma bisa ngebayangin*.

Distrik I di HCMC memang ramah turis di mana hotel dan travel agen ngumpul. Travel agenpun saya perhatikan memiliki tarif yang seragam, dengan daerah tujuan wisata yang sudah jelas. Kalau mau jujur, Indonesia punya tempat wisata yang jauh lebih bagus dari Vietnam. Tapi pariwisata Vietnam lebih menarik turis karena manajemen yang sangat bagus dan jaminan keamanan dari para pelaku wisata, meski kita tetap harus hati-hati. Soal harga paket wisata juga seragam. Meski bisa beda kalau kita ambil paket dari hotel karena hotel mengambil margin yang beda-beda, tapi kalau kita ambil langsung di travel harganya nyaris sama semua. Sebagai wisatawan kita kan males yaa kalau ternyata merasa ditipu atau merasa kemahalan kalau harganya beda, apalagi jomplang, padahal fasilitas sama.

Mengenai peta khusus Distrik I saya dapat gratis di hotel. Di sana ada brosur tentang puppet show, nah di balik brosur itu ada peta alakadarnya tapi cukup informatif tentang beberapa point of interest di Distrik I. Peta di brosur puppet show jadi andalan saya pergi ke mana-mana. Kalau mau dapat peta lengkap bisa datang ke Post Office dan kita bisa minta di tourist board dekat pintu masuk.

Berikut suggestion kalau mau city tour di seputaran Distrik I

Setelah sampai di hotel dan bersih-bersih kita bisa jalan ke Bui Vien st. Di sepanjang jalan banyak tempat makan, karena pastinya kita dalam keadaan kelaparan setelah menempuh 3 jam perjalanan. Atau kita bisa jalan ke Ben Thanh Market buat cari makan malam. Soal makanan terutama makanan halal bisa dilihat di makanan halal di HCMC .  Kalau lagi iseng , setelah sampai di Ben Thanh Market  bisa selusuri  Le Loi St. nanti  akan ketemu People Committee Hall  di depannya ada taman dan patung Ho Chi Minh. Waktu saya ke sana taman dan jalanan terang benderang banyak lampion karena bertepatan dengan ulang tahun partai dan tahun baru China.  di dekatnya ada Opera House.  Nggak perlu masuk foto-foto aja 😀 Kalau cape jalan kita bisa naik taksi buat balik ke hotel . Cari yang mobil vios atau innova yang masih baru, argo awalnya kalau nggak salah sekita UND 10.000.  Nggak terlalu mahal, kok.

Paginya  bisa jalan ke Independence Palace, Katedral, Post Office  Atau kalau  mau nikmatin suasana HCMC di atas becak, bisa juga. Biasanya ada tukang becak yang nawarin pergi ke beberapa icon wisata di Distrik 1 dengan ongkos kalau nggak salah USD 7.  Atau kita bisa selusurin jalan sendiri dengan liat peta.

Sorenya kita bisa ke Ben Thanh market buat belanja oleh-oleh.  Jangan takut nawar ya …. Kadang-kadang mereka ngasih harga gak kira-kira. Yang penting nawar deh kalo di Ben Thanh. Di sana kita bukan cuma akan ketemu kios baju dan cindera mata. Kita juga bisa beli makanan kering. Kayaknya beli kacang almond lucu juga, soalnya di Jakarta jarang yang jual almond kilo-an. Kalo ga salah harganya 100.000 Dong.

Yang saya ngiri sama  HCMC adalah begitu banyak dan nyamannya taman-taman di sana. Tamannya nggak dipagar seperti di Monas (yang kalo kita mau masuk musti tawaf dulu cari pintu masuknya yang mana). Pepohonannya tinggi dan rindang. Enak sekali duduk-duduk di kursi taman, bengong-bengong bisa sampai ketiduran.

Ulang Tahun Partai

HCMC ketika saya datang begitu terang benderang di waktu malam. Lampion besar dipasang di jalan-jalan utama. Keren deh …apalagi lampion bunga teratai yang kuning mencolok mata begitu menawan hati. Saya pikir ini kali gara-gara saya dateng yaa …terus mereka repot-repot kasih penyambutan. Mantab , kan. Juga di taman depan Benh Tanh Market semarak dengan panggung hiburan tiap malam.

Saya bertanya sama supir taksi apa memang seperti ini HCMC sehari-hari. Eh ternyata nggak tiap hari malam-malam di HCMC gemerlap seperti ketika saya datang. Tu kan bener, mereka menyambut saya …huhuy, itu satu fakta, fakta lain ternyata kedatangan saya bertepatan dengan ulang tahun partai yang sedang berkuasa. Uh pantesan rame !

Puncaknya sehari sebelum saya pulang, di taman depan Benh Tanh Market digelar pertunjukan untuk umum yang lebih meriah dari malam sebelumnya.  Panggungnya lumayan besar juga disediakan kursi-kursi plastik buat penonton.  Dibandingin sama panggung di Pantai Carnaval di Ancol emang masih kalah besar dan megah. Kalau menurut saya bersahaja, tanpa mengurangi kegembiraan dalam suatu perayaan.

Pengisi acaranyapun serius, tapi pakai bahasa Vietnam semua. Gak pa pa lah, musik atau pertunjukan adalah bahasa dunia, jadi nggak masalah pakai bahasa negara mana toh pengunjungnya juga dari berbagai macam bangsa. Turis-turis bule pada berjejer berdampingan dengan warga sekitar.  Pengisi acara menampilkan tari-tarian, lagu-lagu yang kadang-kadang saya samain dengan gayanya ABThree. Pembawa acaranya kok rada mirip Kris Biantoro.

Yang lebih seru lagi penontonnya. Di samping para bule duduk keluarga-keluarga Vietnam, ada yang bapak,ibu, anak, ada juga ditambah kakek, nenek, tante, om. Mereka nggak pakai baju ‘pergi’. Cukup dengan kaos atau daster, sembari menikmati pertunjukan mereka makan jajanan semacam sate bakso yang banyak dijual di sekitar taman. Ada juga pasangan yang (kayaknya) lagi pacaran, atau segerombolan anak muda yang duduk-duduk di emperan taman. Nggak terlihat adanya kericuhan, semua datang buat senang-senang menikmati pertunjukan. Mungkin saja di antara para hadirin terselip pimpinan partai, tapi saya tidak melihat perbedaan antara rakyat biasa dan pejabat. Saya terkesan dengan suasana bersahaja dan kesederhanaan mereka di acara itu.

Bersambung

3 thoughts on “Ho Chi Minh City Lima Hari

  1. Wah, menarik juga ceritanya. Saya juga sedang riset buat perjalanan ke HCM nih.

    Ke makassar biasanya naik apa? Saya sudah lama gak kesana jadi kangen.😀

    PMP sekarang namanya PPKN hehehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s