Menjemput Hidayah di Baitullah. Share Pengalaman Berhaji Waktu Muda.

DSC00140

“Mbak, Ibu Bintari itu siapa, ya ?” Tiba-tiba lelaki di sebelahku itu bertanya, di sela-sela sesi tanya jawab yang dipandu oleh Marissa.

Ups.. agak kaget juga saya. Ini kali kedua saya kaget sama orang itu. Pertama, dia tahu-tahu duduk di kursi sebelah saya tanpa bertanya apakah kursi ini sudah ada yang menempati. Rasanya kalimat itu bukan sekedar basa-basi, tapi mengarah ke sopan santun, apalagi kami berada pada acara yang pastinya dihadiri oleh orang yang , bisa dibilang, berpendidikan. Kalimat bertanya “apa kursi ini sudah ada yang punya ?” , “Is this seat taken ?” seharusnya otomatis dia utarakan, mau di acara ini, mau di KFC atau food court apalah, tempat tunggu dokter dsb. dsb. Ehmm… apa saya yang menuntut terlalu lebih dari orang yang saya nggak kenal ? Bukan sih, cuma kalau dia tanya saya akan jawab bahwa, teman saya yang tadi duduk di sini sedang ke toilet. Dan dia pasti tahu apa artinya.

Saya jawab, “Bintari itu istrinya teman saya.” Sip kan ? Saya pikir pembicaraan berhenti.

Ternyata dia masih tanya ,” Maksud saya Ibu Bintari itu pendidikannya apa, kerjanya di mana , alasan apa dia menulis ?”

Walah

Saya jawab ,” Tadi sudah dijelaskan, mas waktu diawal. Yang saya tahu dia dari IPB,”

“Oh saya datangnya telat. Oya saya wartawan dari majalah ‘bla…bla…bla…”, jawabnya.

Hmm… wartawan kalau mau dapat berita ya mbok datangnya on time dong. Masa tanya ke saya, nara sumber yang bisa saja ngomong ngasal-ngasal. Nggak valid dong.

Saya kasi tahu kalau saya rekan suami Bintari, seorang karyawan profesional di perusahaan telekomunikasi multinasional. Lainnya ? saya bilang saya nggak tau. Langsung aja tanya, Mas ke depan.

Masa sih saya bilang Bintari itu orangnya tomboy, kata Eddy, suaminya, dia kan jarang sisiran waktu di rumah. Itu kejadian waktu mereka masih pacaran lho, sekian belas tahun yang lalu. Sekarang kan dia sudah berjilbab dengan sangat cantik jelita begitu. Beda tipis lah sama Marissa.

Memang secara pribadi saya tidak kenal Bintari. Tapi saya kenal nama itu dari tahun sembilan puluhan ketika saya dan Eddy, suaminya, kerja di perusahaan yang sama, meskipun waktu itu kami beda lokasi, beda job description, dan nggak ada hubungan kerja secara langsung. Hal yang membuat saya dekat dengan Eddy karena dia teman sobat saya, Uqi dan kami kerap jalan bareng. Juga karena saya dan Eddy punya hobi sama yaitu batminton. Biasanya dua kali seminggu kami latihan di Senayan.

***

Eddy mengirim invitation lewat fb mengenai launching buku pertama Bintari. Ow.. teman saya ada yang jadi penulis ! Wah saya senang sekali, meskipun dia istri dari teman saya, actually. Seperti juga saya bangga berteman dengan Abi yang tulisannya suka nyelip di koran-koran nasional. Saya memang senang punya teman penulis, soalnya bisa jadi pemacu saya untuk ikut menulis, meski hanya buat konsumsi pembaca blog saya saja yang sangat jarang di update.

Dan siang itu tangga 27 Oktober jam 14.00 sayapun sudah berada di lokasi launching. Telat setengah jam karena menunggu Jeng Marissa yang akan menjadi MC, Itu lho Marissa yang pernah mencalonkan diri jadi Bupati Banten beberapa waktu yang lalu, acarapun dimulai.

Buku Bintari berjudul MENJEMPUT HIDAYAH DI BAITULLAH, berisi pengalaman Bintari dan Eddy ketika menjalankan Ibadah Haji beberapa tahun yang lalu. Bintari menulis dengan gaya bahasa santai, kadang terselip kalimat atau kata-kata slang yang sedang populer saat ini. Tidak terlalu terpaku menggunakan Bahasa Indonesia only, dia juga campur dengan Bahasa Jawa atau Bahasa Inggris.

Sungguh, bukan karena dia teman, membaca tulisan Bintari seperti sedang mendengarkan seorang sahabat bercerita saat duduk-duduk  di warung kopi atau di mall. Kadang saya ikut terhanyut dalam suasana khidmat menunaikan ibadah haji, kadang saya ingin ikut tertawa dan memberi komentar ketika ia cerita hal-hal lucu. Kalau tidak ingat besok masuk kantor, saya masih terus membaca meski jam menunjukkan pukul 3 dini hari.

Bintari menulis dengan jujur tentang perasaannya yang hampa ketika pertama kali melihat Baitullah. Heran kok bisa begitu, sedangkan orang lain juga suaminya bercucuran air mata berjumpa dengan , konon, bangunan pertama yang ada di muka bumi ini, bangunan terakhir yang akan lenyap pada saat kiamat nanti dan kini sebagai bangunan yang menjadi kiblat untuk sujudnya semua muslim di seluruh dunia.

Pengalaman berhajinya yang disusun menjadi buku setebal 308 halaman memang ditujukan terutama buat orang-orang seusianya untuk dapat berhaji pada usia yang bisa dibilang relatif muda. Sebagai lulusan IPB tahun 1993 dan S2 lulusan IPMI Business School, pastinya Bintari ada dalam pergaulan kelas menengah yang kebanyakan sudah mapan dalam hal finansial. BIntari ingin mengingatkan teman-temannya untuk segera berhaji karena kita nggak tau sampai kapan kita masih diberi hidup oleh Allah. Jadi kalau ada duit, langsung aja mendaftar. Di samping itu, Ibadah Haji adalah ibadah fisik, di mana memang dibutuhkan ketahanan fisik yang luar biasa. Hal itu akan lebih memudahkan bila dilakukan pada saat muda.

Dear Bibin, thanks to remind me.

 DSC00130 DSC00146

***

Behind the scene, waktu launching sempat Eddy cerita kepada saya kalau dia juga ikutan menulis untuk buku itu. Setelah bersusah payah membuat tulisan, yang ada malah di-edit habis sama Bintari. “Gue kan udah cerita ini, ngapain ditulis lagi , ” katanya. Ha ha .. yang gitu deh kalo biasa otak atik HP malah disuruh nulis :p

Doorprize yang berjubel itu ??? Iya memang disediakan doorprize kemarin itu. Tapi memang rejeki gue bukan di doorprize, tak satu lembar doorprize saya bawa pulang. Huhu… seandainya paket Clinnique nggak dikasi ke Marissa tapi dijadiin doorprize dan saya sebagai pemenangnya … huhuhu… andai yaaa …

Cowo wartawan kesiangan yang tadi ??? Ngga tau deh nasibnya. What should I think about him ? mukanya juga udah lupa ..huehuehue

Tadi (1 Nov) saya ke Gramedia Jameson Meruya, ada buku Bintari di tumpukan buku baru di kelompok buku-buku agama.Selamat beli !

One thought on “Menjemput Hidayah di Baitullah. Share Pengalaman Berhaji Waktu Muda.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s