Danau Toba – The New 7 Wonders of Nature

Bulan lalu saya vote  Danau Toba agar bisa masuk ke dalam The New 7 Wonders of Nature. Ini bukan karena saya pernah pergi ke sana dan waktu itupun saya belum pernah pergi ke Danau Toba,  tapi lebih karena Danau Toba ada di Indonesia dan saya sebagai orang Indonesia sudah sepatutnya memilih Danau Toba. Selain itu dari Indonesia diwakili oleh Krakatau dan Pulau Komodo.

Sudah diduga kalau vote di internet kontingen Indonesia pasti kalah dengan alasan orang Indonesia yang  internetan kalah banyak dengan negara lain (Padahal menurut hitung-hitungannya Pak Onno, Indonesia bisa dengan mudah menjadi negara pengguna internet terbesar di dunia).  Kalaupun internetan, belum tentu tahu ada site tersebut. Tidak ada gembar-gembor di media massa untuk ikutan sumbang klik. Adem ayem aja tuh, padahal tahun ini ada target 7 juta orang berkunjung ke Indonesia. Sampai hari ini saya lihat Danau Toba ada di urutan 25.

 

Tahun lalu institusi ini juga mengadakan vote The New 7 Wonders of World. Yang masuk 7 besar adalah Chichen Itza Mexico, Christ Redeemer Brazil, Colosseum Italia, Great Wall of China, Machu Picchu Peru, Taj Mahal India dan Petra Jordan.  Secara sinis mungkin kita bisa bilang pemilihan ini seperti pemilihan Idol-idol. Bukan situs resmi dari PBB. Yang penting punya banyak teman dan pulsa untuk sms, bisa deh menang dan terkenal. Apalagi waktu itu Borobudur  nggak masuk dalam list. Uh sebel.

 

Tapi kalau  menang, ini merupakan publikasi yang luar biasa. Contohnya patung Yesus di Brazil yang tahu-tahu mensejajarkan diri dengan Great Wall dan Taj Mahal. Meski dengan berbagai kontroversi tentang hasil pemilihan, publikasi yang mendunia ini setidaknya membukakan mata bahwa ada suatu tempat menarik di suatu negeri sebelah sana yang layak dikunjungi. 

 

Mengacu pada pemilihan tahun lalu, belum tentu pemilihnya adalah cuma orang Meksiko, Brazil , Peru , Cinda, India, Jordan atau Italia saja sehingga bisa menang. Mungkin saja orang Meksiko dan Brazil melakukan vote berulang-ulang sehingga wakilnya bisa menang. Mereka berusaha menang karena mereka tahu efeknya bagi pariwisata di negaranya jika menang. Tapi seratus juta vote juga berasal dari segala penjuru dunia yang mungkin pernah ke sana, atau pingin ke sana lalu vote untuk lokasi-lokasi tersebut meski bukan berada di negara mereka.

 

Minggu lalu saya dapat tugas ke Medan. Seperti pucuk dicita ulam tiba. Saya lalu atur waktu biar bisa pergi ke Danau Toba. Saya rencanakan hari Senin dan Selasa di klien dan hari Rabu pergi ke Toba. Ternyata, hari Rabu tanggal 16 Juli adalah penutupan Pesta Danau Toba . Informasinya saya baca dari spanduk di pintu keluar Bandara juga di depan loby hotel. Dan katanya tanggal 16 Juli Pak SBY akan datang menutup acara tersebut. Kebetulan sekali.

 

Saya lalu menghubungi resepsionis hotel untuk bertanya apakah ada travel ke Danau Toba. Dia bilang tidak tahu dan tidak ada di hotel tersebut. Kalau mau ke sana bisa sewa mobil Rp. 65.000 per jam. Sayang sekali di hotel berbintang  yang memasang spanduk Pesta Danau Toba ternyata tidak ada informasi apapun tentang Pesta tersebut juga akomodasi menuju ke sana.

 

Kami memutuskan menyewa mobil di lain tempat dan berangkat pagi-pagi . Udara Medan yang sejuk di pagi hari dan keramaian khas kota-kota di Indonesia memanjakan mata kami.  Anak-anak pergi ke sekolah setelah libur panjang, pasar-pasar yang memakan sebagian jalan, lalu diikuti dengan deretan kebun kelapa sawit PTPN4 sepanjang jalan.

 

Pak Supir memasang lagu-lagu Panjaitan Bersaudara side A side B bolak-balik.  Saya jadi terlempar ke jaman prasejarah di atas Innova  plat putih yang baru 40 km dipakai jalan.  Alunan Gereja Tuapun membuat saya tertidur.

 

Sayup-sayup ada suara Ariel membangunkan saya.

Hatiku bimbang
Namun tetap pikirkanmu
Selalu, slalu dalam hatiku
Ku melangkah
Sejauh apapun itu
Selalu, kau di dalam hatikuKu berjalan
Berjalan memutar waktu
Berharap, temukan sisa hatimu
Mengertilah
Ku ingin engkau begitu
Mengerti, kau di dalam hatikuTak bisakah
Kau menungguku
Hingga nanti tetap menunggu
Tak bisakah
Kau menuntunku
Menemani dalam hidupku 

 

 

Ternyata punya juga dia kaset yang beginian. Kirain Pak Supir cuma punya  Panbers dan Charles Hutagalung aja.

 

Di Pematang Siantar kami berhenti sebentar untuk membeli roti Ganda. Pasti ada istimewanya roti ini sehingga pagi-pagi sudah banyak orang mengantri.  Rotinya sebenarnya roti tawar bantal biasa yang kemudian dibelah. Yang membuat roti ini terasa istimewa, setelah dibelah mbak-mbak yang melayani mengoleskan butter cream dengan royalnya di kedua sisi roti kemudian menumpahkan meisis di atasnya. Roti ditangkupkan lalu dipotong-potong. Hasilnya, hmmm….. Enak banget. Apalagi roti tawarnya ngga kempes ketika digigit.  Roti ganda yang nikmat itu menemani kami menuju Parapat. mengenai Roti Ganda, selain cokelat ada juga yang pakai selai srikaya.Kayaknya enak juga.

 

Ketika mobil sedang melaju di jalan yang berkelok-kelok, tiba-tiba selintas kami melihat hamparan air yang luas seperti pantai. Oww.. Itu Danau Toba !! Subhanallah, keren banget. Cuma kami harus menahan diri menikmati pemandangan alam yang luar biasa ini, karena jalan masih berkelok-kelok dan kita belum sampai di lokasi wisata.

 

Kami sampai pukul 11.00. Kami lalu menyusuri pinggir danau dan mengambil beberapa foto.  Tempat itu begitu bagus. Terbayang bagaimana dahsyatnya proses terbentuknya danau yang adalah hasil dari letusan gunung vulkanik yang partikel-partikel hasil letusannya terbang ke seluruh penjuru dunia.

 

Rasanya aneh kalau pergi ke Toba tanpa menyeberang ke Samosir. Kami jadinya aneh,karena satu dan lain hal tidak menyeberang. Tapi kami sempat pergi ke dermaga. Kapal yang menuju Samosir tidak tahu mau berangkat jam berapa. Tergantung banyaknya penumpang. Ternyata sistem menunggu sewa di Samosir ini  diterapkan oleh para supir metromini  di Jakarta. Kalau berangkatnya belum jelas, apalagi pulangnya. Iya kalau hari itu juga ada kapal balik ke Parapat, kalau enggak ? 

 

Oya, mengenai Pesta Danau Toba. Seharusnya saya yang pada tanggal 16 Juli ini ada di Danau Toba merasakan meriahnya suatu pesta. Saya nggak tau apa saya datang pada jam yang salah, tapi saya tidak menemukan keramaian seperti layaknya suatu pesta. Biasa aja tuh. Orang-orang yang saya temui juga rasanya biasa-biasa aja. Nggak yang antusias mau ini mau itu.  Kalaupun ada lomba berenang, ya cuma begitu saja. Setelah finish langsung bubar.  Ada juga tempat yang dipersiapkan untuk penutupan Pesta Danau Toba Pak SBY yang ternyata diundur jadi tanggal 17 Juli 2008. Tidak ada informasi apa-apa tentang Pesta Danau Toba, di Toba sekalipun !

 

Memang ada spanduk. Tapi peta lokasi dimana akan diadakan event-event ? Jadual acara ? Makanan apa saja yang khas Toba yang bisa dicoba wisatawan ? Tak usahlah pakai mercon seperti pengantin Betawi tetangga saya di Joglo. Tapi, pesta apaan sih ? Untung Danaunya masih ada.

 

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke SiPiso-piso setelah makan di Rumah Makan Pojok Masakan Muslim di pinggir jalan arah keluar dari lokasi wisata. Ibu yang punya rumah makan menyambut kami dengan ramah. Ikan goreng dan gulai ikannya enak banget, segar and  baru diangkat dari penggorengan.  Apalagi ditambah sambel merah yang bikin mata berkejap-kejap. Cocok sekali menu ini di udara Parapat yang sepoi-sepoi dingin.

 

Sipiso-piso adalah tempat melihat danau Toba dari sisi yang lain. Di SiPiso-piso itu juga ada air terjunnya.  Toba dari Sipiso-piso itulah yang saya lihat di site The New 7 Wonders of Nature. Hanya satu kata.Keren !

 

Apakah ini jadi hal yang nyambung atau nggak nyambung. Danau Toba – The New 7 Wonders of Nature – Pesta Danau Toba. Danau Toba dari sananya sudah bagus. Tinggal bagaimana membuat kemasan yang lebih bagus agar lebih banyak lagi orang datang.

 

Gimana kalau di airport diberi brosur atau bentuk informasi lain mengenai tempat wisata. Ah kuno ya usulnya. Tapi sekuno-kunonya usulan saya,  nggak ada airport di Indonesia yang menyediakan brosur-brosur  kecuali Bandara Ngurah Rai di terminal internasionalnya. Ngga tau yang domestik. Padahal kalau kita berkunjung ke luar negeri pasti disambut oleh brosur-brosur di mana-mana. Peta-peta juga disediakan gratis. Belum lagi voucher belanja. Cihuy banget kan. Kemudian di hotel-hotel juga disediakan brosur, peta, dan agenda acara di daerah yang bersangkutan.  Bukan cuma di bandara dan di hotel, di mall-mall juga  disebar informasi mengenai apa saja yang bisa wisatawan lakukan di kota tersebut. Intinya semua adalah informasi, informasi, informasi dan penyebarannya.

 

Khusus untuk Toba. Toba bagus banget. Nggak perlu lah itu acara lomba berenang, jumpa artis dan sebagainya kalau malah jadi seperti pesta kawinan.   Ibaratnya cewe, Danau Toba nggak perlu blush on biar kelihatan pipinya kemerahan, atau lipstick yang bikin bibir merah basah dan kinclong karena akan jadi terlalu artifisial. Kalau jadi cewe,  Danau Toba cuma perlu pembersih muka, sabun antiseptik biar jerawat nggak tumbuh di mana-mana, seminggu sekali mukanya dikasih masker biar kotoran-kotoran gampang terangkat.  Dijadualkan buat lulur sekujur badan biar daki-daki permanen yang bikin kumuh penampilan bisa rontok. Habis itu mandi rempah. Segar, kan. Pesona tubuhnya akan memancar ke mana-mana tanpa perlu tempelan kosmetik yang membuat gatal dan iritasi.

 

 Untuk Pesta Danau Toba yang kemarin itu, andai  dibuatkan peta besar tentang lokasi wisata dan jadual rangkaian acara yang terpasang di beberapa tempat, mungkin akan sangat membantu. Juga dibutuhkan informasi mengenai tempat-tempat makan di daerah itu.  Orang jalan-jalan kan butuh makan. Kalau makannya nggak bener, ya jadi nggak nyaman.  Eh tapi yang agak lucu tuh kenapa acaranya  tanggal 14 Juli sampai 16 Juli 2008 yang bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah ?  Ini kali salah satu yang bikin Pesta jadi nggak rame.

 

Di samping itu perlu juga disediakan penyeberangan ke Pulau Samosir dengan jadual dan ongkos yang jelas. Seperti halnya di Bali, orang-orang Toba juga bisa menjadi turis guide yang berkualitas yang bisa dengan lancar bercerita mengenai tanah kelahirannya dibumbui hikayat-hikayat masyarakat setempat. 

Juga bisa berkoodinasi dengan hotel-hotel di Medan mengenai travel dan transportasi ke Toba.  Bukan cuma jalan di  Perapat yang dicat dan diaspal sama aparat (atau mungkin gara-gara SBY mau dateng, ya) , juga jalan ke Sipiso-piso dibagusin. Keren banget tu tempat, sayang kalau jalan ke sana kerasa susah, lama, geradakan dan membosankan.  

 

Mudah-mudahan ada peningkatan deh untuk Pesta Danau Toba tahun depan.  Asal konsisten nggak on off  ngadain acaranya.  Kalau Dinas Pariwisatanya agak-agak mentok mikirnya, jangan malu-malu konsultasi dengan pakar pariwisata. Perlu studi banding ke tempat wisata di Paris. Ehem🙂 [biasanya birokrat seneng nih denger yang beginian]. Siapa tahu Da Vinci Code Tour bisa jadi inspirasi.

 

Ah, gampang lu ya nulis !

 

Yeh enak aja !.. Siapa bilang nulis itu gampang ? Susah lagi. Apalagi kalau nggak biasa.  Saya kan ngasih solusi juga, informasi juga, bukan sembarang nulis. Sesuai deh dengan kapasitas saya sebagai wisatawan.

 

Untuk publikasi, palingan saya bisa tunjukin site New 7 Wonders of Nature. Yuk kita ikut idol yang satu ini.  Kita vote buat Danau Toba, Krakatau dan Pulau Komodo.  Siapa tahu, tahu-tahu ketiganya masuk dalam New 7 Wonders of Nature. Siapa tahu kita dapat promosi gratis ke seluruh dunia dari site itu.

One thought on “Danau Toba – The New 7 Wonders of Nature

  1. Yang membuat Danau Toba so special adalah bahwa ternyata Danau Toba (seperti diberitakan oleh entah Discovery Channel atau National Geographic) adalah Super Volcana yang meletus 10000 tahun lalu.

    Cerita bagaimana scientist menemukan bahwa Danau Toba adalah Super Volcano juga sangat menakjubkan. Ada 3 orang scientist yang secara independent (dan tidak kenal satu sama lain dan bekerja pada time frame yang berbeda) yang menggabungkan hasil penelitian mereka dan akhirnya berkesimpulan bahwa DAnau Toba adalah bukan danau biasa.

    Salah satu dari peneliti ini, adalah peneliti iklim dunia. Beliau memeriksa lapisan es di Kutub Utara. Di sana lapisan es yang ada sekarang adalah es abadi, karena itu lapisan es itu adalah lapisan es yang terbentuk selama berpuluh ribu tahun. Dan dari sana, scientist bisa membaca kira-kira bagaimana iklim dunia kita. Nah, ketemu di lapisan yang menunjukkan masa 10000 tahun lalu, ternyata banyak sekali abu Asam Sulfat. Gila bo, ternyata abu dari letusan Danau Toba mencapai Kutub Utara.

    Indonesia memang salah satu sarangnya Volcano. Waktu Krakatau meletus, terjadi tsunami yang melanda pantai Australia. Ini masih belum dahsyat, waktu Gunung Tambora meletus, seluruh Eropa dilanda kegelapan dan musim dingin yang sangat panjang, sehingga ahli sejarah bahkan berteori bahwa Napoleon kalah perang (yang menghentikan ekspansi Beliau kala itu) karena letusan Gunung Tambora (kalau tidak meletus, mungkin Napoleon masih merambah kemana2 dan dunia tidak akan sama dengan yang sekarang).

    Para ahli memperkirakan, apabila the next Super Volcano (seperti yang sekarang menjadi Danau Toba) meletus lagi (mungkin letaknya ada di sekitar California), maka dunia akan kiamat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s