Makam Wangi

Bukan karena sekarang malam Jumat mangkanya saya cerita kuburan, suatu tempat yang kita takut-takut lewat dekatnya tapi pasti kita akan ada di sana pada saatnya.

Saya suka sebel juga sama orang yang dengan gaya sok cool bilang, isinya kan orang mati, ngapain takut, mereka toh udah ngga bisa ngapa-ngapain ! Iya sih emang bener. Tapi siapa yang kuper nggak pernah denger cerita seram tentang kuburan ?  Pingin tutup mata, pingin tutup telinga tapi tetep pingin juga mendengarkan orang cerita yang seram-seram. Efeknya, kita jadi takut sama kuburan.

 

Ingat masa dulu. Kalau sedang kumpul-kumpul di rumah teman atau ketika camping, salah satu kegiatan yang seru adalah mendengarkan cerita seram. Suasana jadi tegang. Dan kalau ada yang iseng bikin kaget sehingga para peserta pada menjerit. Hiiiiiiiiiiiiiiiiii …… Belum lagi setelah itu ada yang kecentilan minta dianterin pulang, padahal rumahnya di gang yang sama dengan tempat kumpul-kumpul.

 

Di jamannya sinetron seperti sekarang ini, cerita seram atau yang berhubungan dengan kuburan malah kok jadi memuakkan. Mungkin benar ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang jahat atau tidak beriman langsung mendapat balasannya ketika detik-detik menuju ajalnya.  Ada yang meninggalnya susah, ada yang kuburannya nggak muat-muat dimasukin jenasah, ada yang selalu keluar air di lubang kubur,  ah banyak deh. Ketika  sesekali kita mendengar atau melihat atau membaca cerita semacam itu, kita jadi diingatkan akan apa yang telah kita kerjakan di dunia ini. Dunia fana yang kita nggak tau berapa lama kita masih bisa berada di dalamnya sebelum kita jalan ke dunia abadi di akherat nanti. Tapi kalau cerita seperti ini merupakan hal rutin yang disiarkan tiap minggu, tiap stasiun tivi punya acara sejenis, tiap kita menyalakan remote kita diberi hidangan semacam ini, apa nggak muak jadinya ?  Tapi emang bener ya, apa-apa yang berlebih pasti memuakkan.

 

Kalau sekarang saya mau cerita,mudah-mudahan tidak memuakkan karena saya mau cerita tentang  kuburan juga. Cerita nyata yang terjadi beberapa minggu yang lalu. He .. He … bukan sinetron tapi ya.

 

***

 

Saya mau cerita dulu tentang Mas Sutris. Kami sekeluarga mengenal dia karena dia ikut pengajian kelompok yang diikuti oleh kedua orang tua saya. Usianya mungkin empatpuluhan. Tapi gurat-gurat di wajahnya dan kulitnya yang gelap membuat dia kelihatan tua. Saya tidak begitu memperhatikan berapa anak-anaknya, meski tiap Idul Fitri dia selalu datang ke rumah dengan keluarganya. Iya, saya tidak begitu perhatian kepadanya, meski dia sangat perhatian kepada keluarga kami.

 

Bentuk perhatian dia pada keluarga kami seperti, tiap bulan dia selalu datang untuk mengambil infaq atau sodakoh, karena dia tahu kami semua di rumah sudah bekerja. Setiap Iedul Adha dia juga datang untuk menanyakan apakah kami sekeluarga mau kurban. Dia bukan Mubaliq di tempat pengajian . Tugasnya memang disuruh-suruh segala hal yang berhubungan dengan ibadah pengajian.  Bertahun-tahun secara rutin dia selalu datang ke rumah untuk hal yang sama.

 

Ada hal saya seharusnya berterima kasih padanya adalah dia selalu rutin menjemput bapak saya pergi ke pengajian. Bapak saya sudah nggak pede bawa motor, karena beliau sudah semakin tua. Maka tiap jadual malam pengajian Mas Sutris datang  ke rumah dengan sepeda tuanya, lalu memboncengkan bapak naik motor ke lokasi pengajian. Meski bukan termasuk komunitas ‘Bike to Work’ , dia ke mana-mana naik sepeda, karena hanya itu kendaraan yang dia punya. Pulangnya pastilah dia balikin bapak ke rumah, lalu dia pulang ke rumah naik sepedanya. Iya, seharusnya, sebagai anak saya harus berterima kasih kepada dia yang telah begitu baik hati mengantar jemput bapak. Dan saya tidak sempat berterima kasih karena dia secara mendadak dipanggil oleh-Nya.

 

Innalilahi wa inna illaihi rojiiun. Tidak ada yang tahu dia berpulang jam berapa. Dia pergi ketika sedang tidur malam, yang dilanjutkan dengan tidur panjang sampai hari penghabisan nanti. Bapak saya menangis mengenang segala kebaikannya. Saya ditelpon mengabarkan berita kematiannya. Saya agak kaget, tapi pada saat itu nggak ada saya merasa kehilangan, karena mungkin kehadirannya dulu juga nggak begitu saya perhatikan.

 

Sekitar dua minggu setelah kepergiannya, saya dapat sms dari Mas Agus, kakak saya. Bunyinya kurang lebih seperti ini ” Penggali kubur mas sutris bilang waktu gali mereka cium bau wangi, biasanya kuburan itu bau apek” !

 

Tiba-tiba saya tersentak. Saya sering mendengar tentang kemudahan-kemudahan orang akhli surga ketika mendekati ajal ataupun tanda-tanda indah yang diberikan oleh alam ketika menerima orang yang disukainya. Subhanallah …Apakah itu pertanda akhli surga ?  Apakah Mas Sutris akhli surga ? Dengan apa yang sudah dia kerjakan di dunia ini, dengan keringat yang dia keluarkan agar kami semua rajin beramal shaleh, amal ibadahnya, kebaikkan alam pada makamnya, ah betapa bahagianya.

 

Kemudian saya dapat cerita percakapan penggali kubur.  Ketika menggali, mereka saling tanya, siapa yang meninggal ? Apakah orang besar ? Apakah pejabat ? Wangi sekali makamnya.

 

Mas Sutris mungkin bukan pejabat dan orang besar di dunia ini. Mungkin kehadirannya di dunia tidak penting, seperti saya yang sombong tidak memperdulikan kehadirannya. Tapi mungkin dia adalah pejabat dan orang besar di surga nanti. Entah hanya Allah Yang Maha Tahu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s