Di Mimpi Saya Totto Chan Bertemu Bersihar Lubis

Minggu pagi yang cerah setelah semalaman hujan membuat saya tiba-tiba menjadi was-was dengan tumpukan kerdus yang belum sempat saya bongkar sejak pindahan rumah 7 tahun yang lalu ! Awalnya memang cuma enam kerdus, tapi lama-lama nambah kerdus-kerdus bekas belanjaan, kain-kain yang nggak kepakai, keset, kaleng-kaleng cat, sama lainnya banyak deh ! Sebenarnya saya sudah lama pingin beresin, tapi kerap dikalahkan kegiatan lain . Minggu pagi kemarin, saya niatin untuk membereskan semuanya. Kalau ada yang masih bisa kepakai ya dipakai. Kalau masih sayang dibuang mau saya simpan dulu di gudang, kalau sudah rela dibuang ya dibuang. Begitu rencananya.

Di kerdus pertama saya ketemu brosur-brosur perjalanan jaman dulu kala. Nggak kepikiran untuk dibuang. Kerdus kedua saya ketemu majalah-majalah tahun 2000, Cosmo, Asri, Gatra, Matra, ehem… yang ada Inneke dengan pose yang kadang masih dibicarakan hingga kini. Di kerdus yang ketiga saya sedetik terpekik senang karena menemukan buku tercinta Totto-Chan Gadis Kecil di Jendela karangan Tetsuko Kuroyanagi. Tau Totto-Chan, kan ? Kalau nggak tau berarti ketinggalan jaman, ah.

Oke, saya nggak cerita tentang Totto-Chan karena sudah banyak yang mengulasnya. Tapi saya suka banget sama buku ini. Saya ketemu Totto-Chan di toko buku Scientific di Blok M secara ngga sengaja sekitar tahun 90-an. Tapi saya nggak langsung beli buku itu. Beli kan pake duit, waktu itu saya nggak ada duit. Kesian, ya. Setelah saya kerja satu tahun kemudian, baru saya beli.

Di antara buku-buku yang saya beli, Totto-Chan adalah buku favorit saya. Hari minggu ini, setelah bertahun-tahun, saya ketemu lagi sama buku ini. Oyah, tadi saya katakan sedetik saya terpekik senang. Tapi, detik berikutnya saya sebel seee sebel sebelnya, karena buku wajah Totto-Chan di sampul buku itu bopengan ! Dan ketika buku itu saya balik, ternyata bagian belakangnya sudah jadi santapan nikmat para rayap, bentuknya seperti sundel bolong ! Nggak cuma buku itu, sih yang kena. Ada beberapa buku dibolongi dengan sukses oleh para rayap. Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad malah lebih parah. Bolong seperti terowongan ! Saman-nya Ayu Utami selamat ! Huh .. kalau harus memilih antara Totto dan Saman, saya pilih Totto yang selamat.

Sayang sekali harus membuang buku-buku itu. Pertama, buku adalah harta saya yang tidak ternilai[ehem] , kedua kalau beli lagi pasti harganya sudah berlipat-lipat. Ketiga, saya nggak rela harus kehilangan buku-buku bagus itu. Keempat, apalagi kalau bukan Kerakyatan yang dipimpin oleh … halllaahh !

Saya pandangi buku Totto-Chan dan yang lain. Saya bersihkan tanah-tanah yang menempel. Saya foto pakai kamera handphone, setidaknya sebelum saya buang saya ada bukti otentik pernah memiliki buku-buku itu. Saya seakan sedang melakukan perpisahan yang mengharukan. Saya merasa sangat bersalah sudah membiarkan buku-buku itu sekian lama berteman dengan rayap. Ada pikiran buat scan buku yang masih bisa diambil informasinya tapi tidak layak simpan karena sudah ada kandungan rayapnya. [Hendra, ini bukan jualan, ya. Eh tapi kalau ada yang mau ikutin jejak saya bisa ikutan nye-scan … uppppss .. out of topic !!].

Cukup lama waktunya saya memandang, menyentuh, membersihkan buku-buku yang ternoda itu. Tapi masih sisa beberapa kerdus yang harus saya seleksi. Untungnya rayap hanya suka Totto-Chan, imut kali ya gambar Totto-nya. Dokumen-dokumen lain selamat !

Saya lalu mengkelompokkan kertas-kertas, majalah, buku cerita, buku teks, buku kuliah, foto kopian, brosur-brosur. Saya menguatkan hati untuk membuang. Hati saya terlalu melankolis untuk berpisah dengan barang-barang tersebut. Tidak bisa !!!! ….. Saya tidak bisa membuangnya !!! Huuu …. Huuu ….huuu ….. Sinetron banget ! Tapi memang tidak bisa ! Atau, belum bisa kali yee …

Saya lalu teringat aksi pembakaran 1340 buku sejarah di Bogor. Kok bisa yaaa ?? Gara-gara nggak ngebahas PKI ? Oke kalo itu. Toh sejarah harus dibuat dengan sejelas-jelasnya. Tapi dibakar ? Aihh too much deeh …. Saya aja nggak tega buang satu buku ,itu juga gara-gara kena rayap, ini 1340 buku ??? Dibakar ??? Nggak salah kalau Bersihar Lubis bilang orang-orang yang bakar itu ‘dungu’.

***

Totto-Chan yang riang gembira bisa-bisanya ketemu sama om Sihar. Mereka lalu ngobrol sambil memandangi tempat sampah di mana bukunya bersemayam bersama hasil kremasi 1340 buku sejarah.

Totto : Om, saya sedih nih. Saya ada di tong sampah sekarang gara-gara nggak diurusin sama yang beli buku saya.

Om Sihar : Bah, kurang ajar !! Tak bedalah kalian semua orang-orang dungu !!!

Hooopppsss …. Totto melonjak kaget. Nggak disangka ngomong sama orang Batak galak banget menurutnya. Dia kan orang Jepang yang penuh tata krama, sopan santun dan lemah lembut! Untungnya Totto anak manis yang nggak cengeng. Nggak ngambek dibentak Batak. Nggak langsung ngadu ke Kaisar Hirohito.

Saya juga kaget. Saya pikir mimpi saya akan panjangan dikit, setidaknya ada alur ceritanya,ada apanya kek. Ada bunga-bunganya, kek. Ada acara makan dorayaki,kek. Pemanasan lah. Kaget, kan kalau langsung dibilang dungu.

3 thoughts on “Di Mimpi Saya Totto Chan Bertemu Bersihar Lubis

  1. Bersihar Lubis yang saya kenal

    “Om Sihar : Bah, kurang ajar !! Tak bedalah kalian semua orang-orang dungu !!!”
    Petikan dialog khayal diatas, nurani saya berontak ingin meluruskan dengan assosiasi yang masih terekam dalam benak saya sesuai dengan karakter Bersihar Lubis yang saya kenal. Bersihar Lubis, lahir di Gunungtua Batangonang, Tapanuli Selatan Sumatera Utara, dan dibesarkan di Sibolga
    Dari sudut karakter dan gaya bicara menurut pengamatan saya Bersihar tidak akan pernah mengeluarkan kata-kata yang vulgar, kasar sebagaimana tipologi etnis batak pada umumnya, seperti digambarkan oleh fragmen dialog diatas.
    Dari tempat lahirnya Gunung tua, dan dibesarkan di Sibolga dia terlahir , terdidik, menjadi pribadi yang lembut malah sedikit agak manis bertutur kata. Anak seorang guru olah raga SPG (Sekolah Pendidikan Guru)., dengan perasaan yang halus lembut, mungkin atau amati karya-karyanya bila sedang melukiskan keindahan Sibolga.
    Syahdan , kira tahun 1971 , saya kira-kira berunur 12 tahun, tinggal 600 meter dari rumah Bersihar Lubis di Jalan IV Sambas , Sibolga. Pada suatu hari minggu saya hanya berdiri tercengang menonton mereka bermain tennis meja dihalaman rumahnya, Dengan sapaan yang lembut Bersihar minta saya untuk mengumpulkan teman-teman sebaya untuk bermain pada hari minggu berikutnya. Dengan selisih usia kira-kira delapan tahun kita dapat berolah raga (bukan hanya tennis meja) bersama mereka dalam sebuah organsasi yang diberi nama Karang Taruna – Nyiur Melambai yang dipimpin oleh nya.
    Jadi agak terbalik dengan dialog diatas. Tapi anda masih tetapi bisa bermimpi apa saja, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya amati dan alami dalam bentuk fakta yang juga bisa berubah jadi mimpi , karena ditelan waktu.

  2. Halo Om Zul. Terima kasih sudah memberi komentar. Maaf kalau kata-kata terlihat vulgar dan kasar untuk beliau. Kalau kata “dungu” nya memang berasal dari beliau yang saya baca di beberapa surat kabar/internet. Cuma dalam bentuk kalimat seperti apa kata “dungu” itu muncul dari beliau jelas saya ngga tau karena ngga dengar langsung. Dan kebetulan beliau orang Batak jadi yang terpikir adalah seperti yang saya tulis. Saya jadi ingat punya teman orang Batak namanya Buha Sihar dan Greg Hutahaen. Dua-duanya kalau ngomong lemah lembut. Mungkin mereka masih sodaraan sama Om Bersihar🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s