(Kalau) Saya Istri Fauzi Badilla

Ini sebenarnya perjalanan yang tidak direncanakan, setidaknya seminggu sebelum berangkat saya nggak kepikiran untuk pergi. Tapi semuanya kalau sudah diatur Allah, pasti akan terjadi. Akhirnya saya pergi.

Saya baca beberapa blog tentang perjalanan ke Manila. Kok banyak yang tidak menyenangkan. Dari antrian imigrasi yang panjang banget, petugas jutek. Antrian ambil bagasi yang lama banget , malah saya baca sebaiknya nggak taro barang di bagasi. Belum lagi pada saat pemeriksaan barang musti ada acara buka sepatu buka sendal. Aneh juga. Supir taksi yang belagu-belagu.
 

Kesan yang ‘nggak jauh’ dari Jakarta ini bikin saya jadi agak waspada. Bayangan saya, kalau saya memposisikan diri jadi orang asing yang pertama kali masuk Jakarta, ini juga dari cerita-cerita lho. Dipalakin petugas, dipalak orang-orang yang pura-pura ramah mau bantu angkut bagasi, dipalak supir taksi dibawa putar -putar seolah si supir amnesia sama kotanya sendiri. Biasanya yang punya pengalaman buruk segera komplain ke segala penjuru. Yang paling umum sih cerita-cerita kabar jelek soal Jakarta ke teman-teman karena protes ke instansi terkait paling dicuekin. Atau yang pingin lebih dibaca orang banyak biasanya tulis di surat pembaca. Yang hobi ngeblog, kemana lagi kalau bukan tulis di blog. Mudah-mudahan sih didengar. Tapi kalau kita bukan siapa-siapa, taulah sendiri respon dari petugas.
 

Sebagai orang asing di negeri asing pasti bingung tujuh keliling kalau kejadian dipalak petugas. Nggak tau musti ngadu ke mana lagi lha wong petugasnya sendiri yang bikin kasus. Seperti Zenk Lotta gitu deh. Sapa tuh ? Itu lho istrinya Fauzi Badilla. Siapa Fauzi Badilla ? Naa… ketauan deh nggak pernah nonton sinetron atau filem Indonesia.
 

Saya sih tau Fauzi Badilla dari infotainment, tapi nggak tau aktingnya gimana. Saya lihat dia ngomong dengan emosi tinggi atau bisa disebut marah-marah karena istrinya dipersulit petugas imigrasi ketika hendak pulang ke negaranya. Wajar kalau suaminya ikut marah-marah. Ah enaknya jadi orang terkenal. Problem sang istri dengan petugas Imigrasi segera tersiar ke seluruh pelosok Indonesia, juga nama petugas yang katanya minta duit dan melecehkan istrinya. Kelanjutan ceritanya silakan browsing sendiri. Mungkin sudah salaman maaf lahir batin mumpung masih suasana Lebaran.
 

Cerita soal Manila bukan masalah palak-memalak. Cuma kok saya sedikit parno aja. Ya h ..little bit norak jadinya. Tapi ya sudahlah. Tiket sudah ditangan. Hotel sudah dipesan. Show must go on. Santai aja.
 

Sampai saya di dalam taksi bandara Ninoy Aquino International Airport ternyat a semua berjalan dengan baik-baik saja. Turun dari pesawat seperti biasa kita disambut sama scanner tubuh. Nggak ada yang spesial. Antrian di imigrasi memang panjang, tapi prosesnya cepat. Petugasnya nggak ada yang senyum nggak masalah, asal nggak ngeselin. Tunggu bagasi juga sebanding lah dengan banyaknya penumpang di pesawat Airbus A330-300 yang seatnya sampai 300. Juga ketika pesan Airport taksi. Kita diberi slip dan bayarnya ke supir. Dari Ninoy Aquino International Airport sampai hotel kami di Makati dikasih harga 330 pesos. Nggak masalah.
 

Nggak ada masalah di Airport. Nggak perlu kejadian seperti Zenk Lotta. Suami saya juga bukan Fauzi Badilla. Nggak perlu broadcast di tivi kalau ada problem, hehe ..lagian siapa lo ? Maksimal paling suami saya tulis di blog-nya dan saya tulis di blog saya.
 

Kalau belum bisa seperti Changi, BUISH bisalah belajar dari NAIA. Minimal orang-orang yang tidak berkepentingan tidak berkeliaran di Bandara. Duduk-duduk nggak jelas taunya jualan minyak wangi. Nggak perlu ada yang sok bantu-bantu angkat barang. Sediakan saja troli yang banyak dan tidak rusak. Level atasnya lagi, sediain dong wifi kek, wimax kek. Soalnya kemarin waktu browsing di BUISH ada orang Malaysia India yang tanya ke kita, bisa nggak internetan ? Bisa lah, orang pake 3G Indosat. Trus dia mengeluh di BUISH dia ketemu 10 wireless network tapi nggak bisa connect dan ngga ada yang tau gimana caranya. “It’s a shame” katanya dengan tampang kesel dan ngeselin juga. Mo ngomong apa kita ?
 

Oya, balik ke airport taksi di Manila. Sampai di hotel saya kasih uang 500 pesos ke supirnya. Dengan cengangas cengenges dia bilang “tips 150 pesos oke .. ?” … laaah …

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s