Makam Wangi

Bukan karena sekarang malam Jumat mangkanya saya cerita kuburan, suatu tempat yang kita takut-takut lewat dekatnya tapi pasti kita akan ada di sana pada saatnya.

Saya suka sebel juga sama orang yang dengan gaya sok cool bilang, isinya kan orang mati, ngapain takut, mereka toh udah ngga bisa ngapa-ngapain ! Iya sih emang bener. Tapi siapa yang kuper nggak pernah denger cerita seram tentang kuburan ?  Pingin tutup mata, pingin tutup telinga tapi tetep pingin juga mendengarkan orang cerita yang seram-seram. Efeknya, kita jadi takut sama kuburan.

 

Ingat masa dulu. Kalau sedang kumpul-kumpul di rumah teman atau ketika camping, salah satu kegiatan yang seru adalah mendengarkan cerita seram. Suasana jadi tegang. Dan kalau ada yang iseng bikin kaget sehingga para peserta pada menjerit. Hiiiiiiiiiiiiiiiiii …… Belum lagi setelah itu ada yang kecentilan minta dianterin pulang, padahal rumahnya di gang yang sama dengan tempat kumpul-kumpul.

 

Di jamannya sinetron seperti sekarang ini, cerita seram atau yang berhubungan dengan kuburan malah kok jadi memuakkan. Mungkin benar ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang jahat atau tidak beriman langsung mendapat balasannya ketika detik-detik menuju ajalnya.  Ada yang meninggalnya susah, ada yang kuburannya nggak muat-muat dimasukin jenasah, ada yang selalu keluar air di lubang kubur,  ah banyak deh. Ketika  sesekali kita mendengar atau melihat atau membaca cerita semacam itu, kita jadi diingatkan akan apa yang telah kita kerjakan di dunia ini. Dunia fana yang kita nggak tau berapa lama kita masih bisa berada di dalamnya sebelum kita jalan ke dunia abadi di akherat nanti. Tapi kalau cerita seperti ini merupakan hal rutin yang disiarkan tiap minggu, tiap stasiun tivi punya acara sejenis, tiap kita menyalakan remote kita diberi hidangan semacam ini, apa nggak muak jadinya ?  Tapi emang bener ya, apa-apa yang berlebih pasti memuakkan.

 

Kalau sekarang saya mau cerita,mudah-mudahan tidak memuakkan karena saya mau cerita tentang  kuburan juga. Cerita nyata yang terjadi beberapa minggu yang lalu. He .. He … bukan sinetron tapi ya. Baca entri selengkapnya »

Pengarang Wanita Idola Saya

Kemana Leila ? Katanya sih, dia sekarang jadi reporter di Tempo. Saya sudah nggak pernah lagi baca tulisannya., karna saya tidak langganan majalah itu. Sempat beritanya saya dengar ketika ada sinetron Dunia Tanpa Koma. Tapi karena kesibukan ini itu, maka saya sama sekali tidak nonton sinetron yang ditulis olehnya. Kadang-kadang saya ingin juga kejutan kecil, seperti di Kompas Minggu beberapa saat yll ada tulisan tentang Linda Hoemar, sosok santun yang ketika SMA selalu memakai kaos kaki panjang menutupi betisnya dan tetap pakai rok melebihi lutut, di saat teman-teman yang lain memotong pendek rok mereka. Kapan, ya Leila Chudori, sang reporter itu diwawancara di Kompas juga?

 Saya mengenal, dalam tanda petik, Leila Shalika Chudori melalui tulisan-tulisannya yang begitu mempersona masa remaja saya. Kalau remaja sekarang mengenal sosok Rachmania Arunita dengan chicklit Eiffel I’m in Love, tahun 80an ada Leila Chudori yang aktif menulis di majalah anak-anak dan remaja.

 Meski sama-sama di Jakarta, saya nggak pernah ketemu Leila, tapi saya tahu dia mulai menulis kelas lima SD. Ketika SMP tulisannya banyak dimuat di Kawanku. Malah di majalah Kawanku ada halaman khusus buat tanya jawab dengan dia. Dari situ saya tau kalau cita-citanya adalah menjadi dokter. Pengarang favoritnya Arswendo Atmowiloto dan Djokolelono.Leilapun rajin latihan karate. Kemudian setelah masuk SMA dia aktif menulis di majalah Gadis. Kadang menulis cerpen, cerbung dan sekali-kali ada novelletnya yang jadi sisipan majalah remaja itu. Leila bertutur dengan bahasa Indonesia yang baik, segar dan kadang jenaka. Menurut saya, tokoh Aku atau pemeran utama di tulisannya adalah gambaran tentang sosok dirinya. Sosok remaja tangguh, pintar, riang, baik hati, punya kelompok yang kompak dengannya dan juga punya saingan sombong dan judes yang di akhir cerita jadi teman atau loser.

Leila tambah memukau saya ketika dia ikut semacam camp di Canada. Dia menulis artikel pengalamannya itu dalam beberapa seri di majalah Gadis. Pengalamannya semakin lengkap ketika dia bercerita tentang Pangeran Charles yang datang ke camp tersebut. Sebagai gadis kecil,melihat apa yang diraih Leila di usianya, membuat saya mengidolakan dia.Semuanya saya tahu dari membaca.Lebih duapuluh tahun berlalu. Apa yang saya baca ketika kecil masih mengendap di sela-sela memori-memori lain di otak saya, tiba-tiba pop-up begitu saja mengalir seperti baru kemarin saya membeli majalah Gadis di atas metromini S76 atau di terminal Blok M sepulang sekolah.

Ketika saya ketika lulus SMA,saya mulai kehilangan teman satu satu. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri, ada yang swasta, ada yang ke luar negeri, ada yang jadi preman di Blok M, ada pula yang nikah dengan pacarnya. Ketika Leila lulus SMA, saya seperti adik kelas yang dilupakan. Dia pasti sibuk ingin meraih cita-cita jadi dokter. Atau mungkin dia punya back-up cita-cita yang lain. Saya kehilangan Leila seperti saya kehilangan teman-teman yang lain. Leilapun tidak lagi menulis di Gadis.

Setelah Leila, ada satu penulis remaja favorit saya waktu itu . Namanya Oriza Safitri. Hampir tiap terbitan majalah Gadis memuat tulisan segar menawan hati yang ending-nya nggak pernah diduga. Oriza cerita tentang romansa gali Jogja, orang-orang bertatoo yang jadi sasaran tembak di pertengahan 80an. Oriza cerita tentang lelaki yang ditinggal mati tunangannya. Oriza punya banyak cerita yang terasa membekas di hati saya.

Sayangnya, Oriza hanya sempat mampir sebentar di Gadis, karena ada yang lebih sayang dengannya. Pada suatu ketika, Oriza yang kuliah dan kost di Jogja sakit dan tidak tertolong lagi. Kisah hidupnya hampir sama dengan kisah-kisah cerpen yang sering ditulis olehnya. Dia pergi ketika perlahan sedang menapaki tangga kehidupan. Belum sampai puncak, Oriza mati muda.

Selain Leila dan Oriza yang waktu itu ‘gue banget’, sesungguhnya pengarang wanita yang begitu ingin saya mengumpulkan semua karyanya adalah Nurhayati Srihardini, atau NH Dini. Siapa yang tidak tahu beliau ? Saya baca buku NH Dini berjudul Pada Sebuah Kapal waktu kelas 2 SMP.

Kalau kita ke Gramedia, novel-novel NH Dini masuk dalam katagori ‘Sastra’. Yah, dia bukan hanya penulis, dia memang sastrawati yang menurut saya belum ada tandingannya di Indonesia. NH Dini menulis seperti orang sedang curhat. Dari masa muda hingga kini, dia masih konsisten menulis dan menerbitkan kisah fiksinya.

Pada seri kenangan yang terbit tahun 2007 ini, dia sangat terbuka bercerita tentang keluarganya. Kadang, di kala mungkin saya bertemu dengannya, ingin saya tanya apa benar ada sebagian atau seluruh kisah Sri, Rina atau juga Hiroko yang jadi pemeran utama di bukunya adalah cerita kehidupannya sendiri. Apakah kisah di La Grande Borne adalah benar-benar kisah hidupnya.

Di bukunya, saya menemukan kegetiran hidup seorang wanita yang senantiasa berusaha tegar, luluh oleh kelembutan hati orang lain yang bukan pasangan resminya. Wanita di tangan NH Dini bukannya sosok superwoman yang nggak butuh laki-laki. Ibu Dini begitu pandai berkata-kata dalam tulisannya, dia tahu bagaimana menyusun kalimat sehingga adegan mesra tidak perlu ditulis detail, yang acap memberi kesan murahan. Dia punya cara yang elegan. Mudah-mudahan Ibu Dini dikaruniai usia yang panjang, yang memungkinkan dia kembali menulis kisah sespektakuler Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko ataupun La Barka.

Salam saya buat Leila dan Bu Dini. Semoga Oriza istirahat dengan damai di sisi-Nya.

Di Mimpi Saya Totto Chan Bertemu Bersihar Lubis

Minggu pagi yang cerah setelah semalaman hujan membuat saya tiba-tiba menjadi was-was dengan tumpukan kerdus yang belum sempat saya bongkar sejak pindahan rumah 7 tahun yang lalu ! Awalnya memang cuma enam kerdus, tapi lama-lama nambah kerdus-kerdus bekas belanjaan, kain-kain yang nggak kepakai, keset, kaleng-kaleng cat, sama lainnya banyak deh ! Sebenarnya saya sudah lama pingin beresin, tapi kerap dikalahkan kegiatan lain . Minggu pagi kemarin, saya niatin untuk membereskan semuanya. Kalau ada yang masih bisa kepakai ya dipakai. Kalau masih sayang dibuang mau saya simpan dulu di gudang, kalau sudah rela dibuang ya dibuang. Begitu rencananya.

Di kerdus pertama saya ketemu brosur-brosur perjalanan jaman dulu kala. Nggak kepikiran untuk dibuang. Kerdus kedua saya ketemu majalah-majalah tahun 2000, Cosmo, Asri, Gatra, Matra, ehem… yang ada Inneke dengan pose yang kadang masih dibicarakan hingga kini. Di kerdus yang ketiga saya sedetik terpekik senang karena menemukan buku tercinta Totto-Chan Gadis Kecil di Jendela karangan Tetsuko Kuroyanagi. Tau Totto-Chan, kan ? Kalau nggak tau berarti ketinggalan jaman, ah.

Oke, saya nggak cerita tentang Totto-Chan karena sudah banyak yang mengulasnya. Tapi saya suka banget sama buku ini. Saya ketemu Totto-Chan di toko buku Scientific di Blok M secara ngga sengaja sekitar tahun 90-an. Tapi saya nggak langsung beli buku itu. Beli kan pake duit, waktu itu saya nggak ada duit. Kesian, ya. Setelah saya kerja satu tahun kemudian, baru saya beli.

Di antara buku-buku yang saya beli, Totto-Chan adalah buku favorit saya. Hari minggu ini, setelah bertahun-tahun, saya ketemu lagi sama buku ini. Oyah, tadi saya katakan sedetik saya terpekik senang. Tapi, detik berikutnya saya sebel seee sebel sebelnya, karena buku wajah Totto-Chan di sampul buku itu bopengan ! Dan ketika buku itu saya balik, ternyata bagian belakangnya sudah jadi santapan nikmat para rayap, bentuknya seperti sundel bolong ! Nggak cuma buku itu, sih yang kena. Ada beberapa buku dibolongi dengan sukses oleh para rayap. Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad malah lebih parah. Bolong seperti terowongan ! Saman-nya Ayu Utami selamat ! Huh .. kalau harus memilih antara Totto dan Saman, saya pilih Totto yang selamat.

Sayang sekali harus membuang buku-buku itu. Pertama, buku adalah harta saya yang tidak ternilai[ehem] , kedua kalau beli lagi pasti harganya sudah berlipat-lipat. Ketiga, saya nggak rela harus kehilangan buku-buku bagus itu. Keempat, apalagi kalau bukan Kerakyatan yang dipimpin oleh … halllaahh !

Saya pandangi buku Totto-Chan dan yang lain. Saya bersihkan tanah-tanah yang menempel. Saya foto pakai kamera handphone, setidaknya sebelum saya buang saya ada bukti otentik pernah memiliki buku-buku itu. Saya seakan sedang melakukan perpisahan yang mengharukan. Saya merasa sangat bersalah sudah membiarkan buku-buku itu sekian lama berteman dengan rayap. Ada pikiran buat scan buku yang masih bisa diambil informasinya tapi tidak layak simpan karena sudah ada kandungan rayapnya. [Hendra, ini bukan jualan, ya. Eh tapi kalau ada yang mau ikutin jejak saya bisa ikutan nye-scan … uppppss .. out of topic !!].

Cukup lama waktunya saya memandang, menyentuh, membersihkan buku-buku yang ternoda itu. Tapi masih sisa beberapa kerdus yang harus saya seleksi. Untungnya rayap hanya suka Totto-Chan, imut kali ya gambar Totto-nya. Dokumen-dokumen lain selamat !

Saya lalu mengkelompokkan kertas-kertas, majalah, buku cerita, buku teks, buku kuliah, foto kopian, brosur-brosur. Saya menguatkan hati untuk membuang. Hati saya terlalu melankolis untuk berpisah dengan barang-barang tersebut. Tidak bisa !!!! ….. Saya tidak bisa membuangnya !!! Huuu …. Huuu ….huuu ….. Sinetron banget ! Tapi memang tidak bisa ! Atau, belum bisa kali yee …

Saya lalu teringat aksi pembakaran 1340 buku sejarah di Bogor. Kok bisa yaaa ?? Gara-gara nggak ngebahas PKI ? Oke kalo itu. Toh sejarah harus dibuat dengan sejelas-jelasnya. Tapi dibakar ? Aihh too much deeh …. Saya aja nggak tega buang satu buku ,itu juga gara-gara kena rayap, ini 1340 buku ??? Dibakar ??? Nggak salah kalau Bersihar Lubis bilang orang-orang yang bakar itu ‘dungu’.

***

Totto-Chan yang riang gembira bisa-bisanya ketemu sama om Sihar. Mereka lalu ngobrol sambil memandangi tempat sampah di mana bukunya bersemayam bersama hasil kremasi 1340 buku sejarah.

Totto : Om, saya sedih nih. Saya ada di tong sampah sekarang gara-gara nggak diurusin sama yang beli buku saya.

Om Sihar : Bah, kurang ajar !! Tak bedalah kalian semua orang-orang dungu !!!

Hooopppsss …. Totto melonjak kaget. Nggak disangka ngomong sama orang Batak galak banget menurutnya. Dia kan orang Jepang yang penuh tata krama, sopan santun dan lemah lembut! Untungnya Totto anak manis yang nggak cengeng. Nggak ngambek dibentak Batak. Nggak langsung ngadu ke Kaisar Hirohito.

Saya juga kaget. Saya pikir mimpi saya akan panjangan dikit, setidaknya ada alur ceritanya,ada apanya kek. Ada bunga-bunganya, kek. Ada acara makan dorayaki,kek. Pemanasan lah. Kaget, kan kalau langsung dibilang dungu.

Cita-cita Saya

” Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan berusahalah untuk menggapainya “

Jadul banget ya kedengarannya. Dulu masa-masa SD ketika saling isi Buku Kenangan, yang biasanya terdiri dari kolom-kolom curriculum vitae nama, alamat, tempat tanggal lahir, cita-cita, juga ada kolom ‘kata kenangan’. Ngga tau yang mulai siapa, banyak teman-teman saya yang mengisi kolom kata kenangan dengan ” gantungkan cita-citamu di langit”.

Setelah lama tidak mempersoalkan cita-cita, sekarang akhirnya saya pakai quote tersebut untuk memotivasi Fachry yang sekarang sudah kelas 2. Gurunya bilang kalau Fachry musti sering dimotivasi dan dibimbing agar bisa mengerjakan soal-soal. Di rumah dia malas-malasan belajar. Ketika diajak belajar, alasannya ngantuk. Kadang-kadang saya berhasil memotivasi dia , tapi besoknya sudah lupa belajar. Padahal minggu depan ada EHB.

Dulu Fachry pernah menggantungkan cita-citanya setinggi langit beneran. Dia ingin jadi pilot. Dia tambah bersemangat jadi pilot setelah ketika dalam perjalanan pulang dari Makassar dia diundang melongok ke cockpit pesawat. Pak Pilot dan Pak Co Pilot menyalaminya. Foto Fachry menggunakan topi pilot yang kebesaran bersama-sama kedua pilot dilatarbelakangi panel-panel cockpit pesawat dipajang beberapa lama. Itu dua tahun yang lalu.

Sekarang cita-citanya jadi polisi. Nggak tau apa yang membuatnya ingin jadi polisi. Yang pasti dia senang lihat polisi mengatur lalu lintas atau menangkap penjahat seperti di filem-filem. Saya pernah bilang kalau jadi polisi bakalan kepanasan atau malah kehujananan di jalan. Dia diam saja. Beberapa hari berlalu, ketika ditanya cita-citanya, dia masih tetap ingin jadi polisi.

Saya bilang Fachry, kalau mau jadi polisi harus pandai berhitung.

“Apa itu berhitung ?” tanya Fachry.

Saya kasih tau kalau berhitung itu sama dengan Matematika. Fachry juga harus pandai IPA.

“Apa itu IPA ?” tanyanya lagi.

“IPA itu Sain,” jawab saya.

“Oke, aku mau belajar. Tapi sebentar aja ya soalnya aku mau main Naruto,” katanya mencoba menawar.

“Ayo kita belajar perkalian ,” kata saya memulai pelajaran.

Baru satu kali satu sama dengan satu, dua kali satu sama dengan dua, dia berkata sambil lari ke kamar

” Bu, aku mau liat adik sudah tidur atau belum ya, aku mau sayang dulu.”

Yah…. bubar deh pelajaran hari ini !

Ketika makan malam berdua, kami melanjutkan obrolan. Saya cerita tentang Kidzania, tempat bermain baru dimana anak-anak bisa berperan sesuai dengan profesi yang dia mau. Saya janji setelah EHB Fachry akan diajak ke sana.
 

“Aku bisa jadi polisi, ya bu ?” tanyanya.
 

“Bisa. Fachry dipinjemin baju polisi kalau mau jadi polisi. Fachry bisa pilih jadi pilot, petugas pemadam kebakaran, dokter dan lain-lain,” jawab saya.
 

“Tapi nanti aku diajarin dulu ya ?” tanyanya.

“Iya. Ada kakak-kakak yang ngajarin,” kata saya, meski saya juga belum begitu jelas aturan main di sana.

“Bu, nanti aku mau belajar bahasa Inggris ya,” katanya.

“Oke.”

“Soalnya nanti kalau penjahatnya orang Inggris, masa polisinya nggak ngerti mau ngomong apa,” katanya sambil tertawa-tawa. Ha ha ha … lucu juga.
 
*** 

Memiliki cita-cita setinggi langit adalah hal yang mudah. Tinggal bilang mau jadi pilot, astronot, dokter, antropolog, apoteker, pengolah limbah, tukang kue dan sebagainya. Masalahnya adalah gimana supaya cita-cita itu tercapai. Kadang-kadang, kita musti ukur diri juga untuk menentukan cita-cita atau target lainnya. Cari aman lah.
 

Ini pernah saya alami ketika presentasi program untuk suatu jabatan di Pramuka, yaitu jadi Pratama Putri, jabatan prestisius yang jadi incaran semua orang. Saya musti buat program. Buat saya, program itu adalah suatu target yang harus kita capai dalam tempo satu tahun. Kalau saya buatnya ketinggian, kan cuma lip service aja. Saya mau buat yang setahun ini bisa dijalankan sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan organisasi kami. Karena target program saya begitu sederhana dan rival saya punya target yang lebih bombastis, akhirnya saya kalah.
 

Mau tau program saya apa ? Begini. Buat saya yang masih SMP kala itu, naik gunung adalah sesuatu yang prestisius, keren, asik banget. Tadinya saya mau tulis program naik gunung. Cuma kok kayaknya saya nggak yakin kita bisa melakukannya. Akhirnya program untuk jadi Pratama Putri saya ubah jadi NAIK BUKIT !
 

Tau kan jadinya ? Baca entri selengkapnya »

(Kalau) Saya Istri Fauzi Badilla

Ini sebenarnya perjalanan yang tidak direncanakan, setidaknya seminggu sebelum berangkat saya nggak kepikiran untuk pergi. Tapi semuanya kalau sudah diatur Allah, pasti akan terjadi. Akhirnya saya pergi.

Saya baca beberapa blog tentang perjalanan ke Manila. Kok banyak yang tidak menyenangkan. Dari antrian imigrasi yang panjang banget, petugas jutek. Antrian ambil bagasi yang lama banget , malah saya baca sebaiknya nggak taro barang di bagasi. Belum lagi pada saat pemeriksaan barang musti ada acara buka sepatu buka sendal. Aneh juga. Supir taksi yang belagu-belagu.
 

Kesan yang ‘nggak jauh’ dari Jakarta ini bikin saya jadi agak waspada. Bayangan saya, kalau saya memposisikan diri jadi orang asing yang pertama kali masuk Jakarta, ini juga dari cerita-cerita lho. Dipalakin petugas, dipalak orang-orang yang pura-pura ramah mau bantu angkut bagasi, dipalak supir taksi dibawa putar -putar seolah si supir amnesia sama kotanya sendiri. Biasanya yang punya pengalaman buruk segera komplain ke segala penjuru. Yang paling umum sih cerita-cerita kabar jelek soal Jakarta ke teman-teman karena protes ke instansi terkait paling dicuekin. Atau yang pingin lebih dibaca orang banyak biasanya tulis di surat pembaca. Yang hobi ngeblog, kemana lagi kalau bukan tulis di blog. Mudah-mudahan sih didengar. Tapi kalau kita bukan siapa-siapa, taulah sendiri respon dari petugas.
 

Sebagai orang asing di negeri asing pasti bingung tujuh keliling kalau kejadian dipalak petugas. Nggak tau musti ngadu ke mana lagi lha wong petugasnya sendiri yang bikin kasus. Seperti Zenk Lotta gitu deh. Sapa tuh ? Baca entri selengkapnya »

Insinyur Bowo

Kenal Insinyur Bowo ? Dia bukan insinyur lulusan tahun 90-an atau 2000-an. Sepertinya lulus 25 atau 30 tahun yang lalu, mangkanya dia nggak segan pakai gelar insinyur di depan namanya. Insinyur sekarang kan jarang sekali yang buat kartu nama lengkap dengan gelar. Coba saja lihat kartu nama orang Indosat, Telkom, XL atau perusahaan sarang-sarang insinyur lainnya. Nggak ada tuh yang cantumin gelar. Pertama mungkin karena itu policy perusahaan, kedua mungkin karena sifat rendah hati sehingga nggak mau pamer [lagian kayak gituan aja dipamerin], yang ketiga mungkin lho karena tidak mau terlalu bertanggung jawab kalau ada problem teknis terus ada pertanyaan ’siapa nih insinyurnya ?’ Insinyur sekarang lebih berani taro gelar ST (Sarjana Teknik) ketika bikin surat undangan kawin, seenggak-enggaknya bikin orang tua bangga bisa nyekolahin anaknya sampai jadi insinyur. Padahal nggak ada hubungannya kawin sama gelar. Tapi Insinyur Bowo, dia dengan gagah berani menggunakan gelarnya. Lha wong udah cape-cape sekolah, kata beliau.

Oya, kenal Insinyur Bowo, nggak ? Ah …banyak sebenarnya yang namanya Bowo jadi insinyur, meski udah lama nggak ada lulusan di Indonesia yang pakai gelar insinyur lagi setelah lulus kuliah teknik, yang ada gelar Sarjana Teknik. Tapi tetep saja istilah insinyur dipakai. Contohnya ,” Jeung, anak saya sebentar lagi diwisuda jadi insinyur lhoo.” Sekarang, anak-anak lulusan teknik biasanya disebut engineer. Engineer – Insinyur …. apalah bedanya. Tapi terserah lah, saya cuma mau refresh cerita tentang Insinyur Bowo.

Cerita ini di-refresh karena Insinyur Bowo adalah tokoh rekaan dalam kaset lama Warkop DKI, grup lawak yang nggak perlu diterangkan lagi siapa mereka. Singkat cerita begini [karena cerita ini sudah lama banget, jadi banyak di-intervensi oleh improvisasi saya, tapi sama sekali tidak mengurangi makna cerita aslinya] :

Bowo yang sekarang sudah jadi insinyur ditantang untuk buat inovasi mengenai mesin cuci [kalau insinyur sekarang tantangannya adalah gimana bikin CV keren]. Setelah lama meneliti di lab, dia pamerkan ke khalayak mesin cuci yang bertenaga 5 Watts, setara dengan lampu pijar remang-remang, setara dengan mata orang yang ngantuk berat kan suka dibilang matanya tingga lima Watts.

Insinyur Bowo lalu presentasi dengan memasukkan sapu tangan kotor. Satu detik … dua detik … ciaaattt … . tiga detik sapu tangan keluar bersih rapi sudah disetrika. Orang-orang tepuk tangan.

Lalu mesin cuci diuji lagi. Dimasukkanlah kaos kaki putih yang kotor dan bau. Satu detik … lima detik …. ciaaaattttt ….. tujuh detik kaos kaki sudah putih bersih wangi siap dipakai. Orang-orang tepuk tangan.

Hmm… ada yang penasaran, lalu memasukkan kaos yang habis dipakai main bola di lapangan becek. Satu menit …. dua menit …. ciaaaaattt …. lima menit kaos sudah bersih, licin, aroma wanginya menyebar ke mana-mana. Tambah keras orang-orang tepuk tangan.

Tiba-tiba, ada orang lari-lari ke dalam ruangan bawa seprei ukuran jumbo sekalian bed covernya langsung dia masukkan ke mesin cuci. Satu menit …. dua menit ….. eehh …. satu jam …. dua jam …. Kok nggak kelar-kelar. Orang-orang berdebar menunggu. Nggak sabar nunggu sampai tiga jam mereka melongok ke dalam mesin cuci. Ehhhh …. Ternyata ….. ada lampu pijar 5 watts dan Insinyur Bowo sedang mencuci di dalamnya !

Kalau saya yang cerita nggak lucu kali ya. Baca entri selengkapnya »

Saya Kepada Malaysia

Orang Indonesia kesel sama Malaysia. Dayak, batik, angkung, rendang, terakhir Rasa Sayange, itu tuh yang bikin orang Indonesia kesel, mangkel dan sebel sama yang katanya saudara serumpun itu. Sembarangan ngakuin milik orang lain !

Tapi saya biasa aja. Kalau ‘mereka’ patenin angklung, batik, rendang, terus kenapa ? ‘Mereka’ itu orang-orang atau perusahaan di Malaysia yang bikin hak paten atas angklung atau batik atau rendang buatan mereka sendiri, dan hak patennya dibuat di Malaysia. Coba aja mereka buat hak paten di Indonesia, pasti nggak dikasih ! Lalu kalau mereka ingin buat paten ke seluruh dunia ? Ya terserah aja sejauh barang yang dipaten buatan mereka dan mereka musti bayar mahal untuk itu.

Lagian ya, orang Indonesia yang nenek moyangnya orang pelaut itu pasti banyak yang menambatkan kapalnya di Malaysia. Apa salah kalau lagi buat api unggun, nenek moyang kita yang merantau ke Malaysia itu nyanyi Rasa Sayange rasa sayang sayange ? Apa salah kalau lalu lagu itu membahana seluruh negeri secara turun menurun dan dianggap patut menjadi lagu penyambut kedatangan tamu ? Baca entri selengkapnya »

Museum Al-Quran

 

 Pada suatu siang yang panas, yang sesungguhnya tidak begitu pengaruh buat saya karna saya ada di dalam gedung berAC, Siska mengirim pesan lewat YM.

Martsiska : saya kemarin ke museum Al Quran di TMII

Martsiska : menyedihkan sekali kondisinya

Saya : saya gak pernah ke museum itu, jadi gak tau

……blah .. bla…bla…. 

**** 

Saya terakhir ke museum di Jakarta waktu kelas 2 SMA dan itu adalah jaman dahulu kala. Jaman gedung sekolah saya belum semegah gedung sekarang. Jaman begitu nyamannya menyelusuri jalan Bulungan yang belum disesaki oleh gultik, parkir mobil, bis bandara,motor, taksi dan lalu lintas kendaraan yang sangat tinggi.  Jaman masih ada bioskop elite bernama Garden Hall yang kalau nonton di situ nggak boleh pakai sandal jepit lhoo …., musti pakai karcis !  Sampai bioskop itu kemudian disulap bim salabim jadi Blok M Plaza, tiga tahun lalu-lalang saya cuma lewat parkirannya yang waktu itu rasanya luas banget. Jangankan nonton, masuk ke lobbynya aja nggak berani …. uuuu…minder duluan deh. Jaman beribu kenangan ketika melintas kawasan Blok M menuju terminal bus. Ah…jaman itu sudah berlalu duapuluhdua tahun yang lalu. Iya, duapuluhdua tahun yang lalu adalah terakhir kali saya pergi ke museum di Jakarta ! Baca entri selengkapnya »

Tiket Online PT KAI

Sebagai orang yang lahir dan hidup di Jakarta, juga saudara-saudara Bapak dan Ibu sebagian besar di Jakarta, Mbah Kung  juga Mbah Putri yang sudah lama nggak ada, eh masih ada satu Mbah Putri deng … saya dan keluarga tidak pernah mengkhususkan diri mudik ketika Lebaran. Keluarga besar saya ada di Jakarta, jadi kami menghabiskan waktu  Lebaran di Jakarta. Karena itu saya tidak pernah merasakan berdesak-desakan antri tiket di Gambir, apalagi naik Kereta Sapu Jagat … nggak pernah.

Baca entri selengkapnya »

Hari Ini di Gerbang Ramadhan 1428 H

Ramadhan datang kali ini disambut dengan gelegak bumi Bengkulu yang berkekuatan 7.9 skala Richter.  Gempa kemudian bukan cuma di Bengkulu. Padang, Lampung, Jambi, Maluku, Jayapura bahkan Timor Timurpun ikut tergoncang. Ah.. serasa Timor Timur masih wilayah Indonesia. Tapi gempa, apapun bencana alam, tidak melihat batas negara yang digaris-garis manusia. Tidak melihat siapa yang sedang berkuasa di wilayah itu. Tidak melihat betapa bobroknya suatu negara, atau malah betapa majunya suatu bangsa. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama Entri Lebih Baru »