Menjadi Manusia Indonesia yang Unggul dengan ASI Eksklusif

*diambil dari blog saya di geeks*

Ada dua berita sore ini yang menarik. Menlu Hassan Wirajuda dalam acara peresmian Program Duta Belia 2008 di hadapan para Duta Belia 2008 mengatakan, ” Menjadi manusia yang unggul bukanlah pilihan, namun kewajiban bagi kalian.” Uh hebat ya kalimat pembangkit semangatnya.

Sedang berita kedua adalah tentang kampanye mendukung ibu menyusui yang diselenggarakan di Jayapura. Di situ dijelaskan bahwa Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat mengurangi resiko kematian pada bayi yang baru lahir. IMD akan menyelamatkan sekurangnya 30.000 bayi Indonesia. Dua berita itu jadi saling berkait. Yang satu kewajiban menjadi manusia unggul, yang satunya bagaimana menjadi manusia unggul.

Walaupun ASI itu baik, tapi ternyata di Indonesia hanya 40% bayi yang mendapat ASI Eksklusif selama 6 bulan. Ibu-ibu yang habis masa cutinya mungkin hanya bisa memberi ASI eksklusif 3 bulan saja. Padahal pasti ibu-ibu bekerja ini masih ingin memberikan yang terbaik buat bayinya. Cuma karena tuntutan pekerjaan, bayi akhirnya mengalah minum susu formula selama ibu di kantor.

Sebelum melangkah lebih lanjut, saya yakin sekali 99% dari pengakses geeks adalah bapak-bapak. Mangkanya, saya mau agar para bapak-bapak ini sadar bahwa keberhasilan ASI eksklusif ini juga sangat bergantung dari para bapak. Untuk anaknya sendiri, bapak-bapak bisa membantu memberi semangat kepada istri masing-masing. Bisa juga membantu menepuk-nepuk pundak bayi setelah menyusui agar bayi bisa bersendawa. Pijitin dong istrinya, karena menyusui itu capek banget. Pokoknya istrinya di-servis deh. Jangan malah lirik-lirik yang lain. Nah, kalau suaminya bertindak menyenangkan begini, istri akan senang, makannya tambah banyak, ASI nya tambah lancar, dan bayinya dapat gizi yang maksimal.

Untuk lingkungan, terutama di kantor, bagus banget kalau bapak-bapak bisa mengusulkan adanya ruangan maternity di kantor buat ibu-ibu yang masih masa menyusui, bagusnya dilengkapi dengan kulkas. Di sana ibu-ibu nyaman bisa memerah susu pada saat istirahat, sehingga bisa diberikan buat bayinya pada saat ibunya bekerja.

Sekarang ini banyak ibu-ibu bekerja yang memerah susunya di toilet ! Ya karena tempat yang paling aman cuma toilet. Sedang kita tahu toilet itu sarangnya kuman. Ironis, kan. Kalau di kantor punya ruangan sendiri ya nggak masalah bisa lebih privat. Atau para sekretaris yang bisa nebeng ruang bos nya kalau bos nya lagi ngga ada. Selebihnya paling ke toilet.Hal ini membuat ibu-ibu nggak merasa nyaman, yang berakibat ASI nya keluar tidak lancar.

 

DSC00021

DSC00022 (2)

Lihat deh kalau punya persediaan susu seperti ini. Ini ASI semua ,lho. Cuma dari seorang ibu saja ! Ibu ini bekerja juga,malah sering dapat tugas sampai malam dan mobile ke clientnya hampir tiap hari.  Botol ASI bukan bagian depannya saja, tapi sampai ke pojok-pojoknya refrigerator isinya ASI semua.  Ngga perlu beli susu formula yang mahal. ASI ini kalau di refrigerator akan awet dalam waktu 3 bulan, jadi jangan takut cepat rusak. Kalau mau diminumkan ke bayi tinggal di normalkan suhunya sampai cair, lalu rendam air panas biar hangat.

Kebetulan si ibu ini adalah adik saya yang kerja di kantor yang mendukung program ASI eksklusif. Bravo, ya Rini ! Saya kasih penghargaan sebesar-besarnya kepada Indosat, tempat Rini bekerja.

Nah, bapak-bapak yang ada di geeks, coba deh pengaruhi manajemen kantor masing-masing untuk bisa mendukung program ASI Eksklusif.

Kita sebagai orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak kita. Apakah nanti mereka menjadi anak-anak yang unggul atau biasa-biasa saja, setidaknya orang tua sudah berusaha semaksimal mungkin,memberikan yang terbaik buat mereka.

Palembang – Once Upon a Time

Ada tugas mendadak ke Palembang. Ah sebenarnya infonya nggak mendadak, sudah tahu dari 1 minggu yang lalu. Tapi baru dapat konfirmasi keberangkatan jam 8 malem hari Jumat waktu saya dalam perjalanan menuju Puncak. Padahal pesawatnya Sabtu jam 6.05 pagi !! Wah grabak grubuk deh persiapannya. Pulang dari Puncak, buru-buru packing, terus lanjut ke Bandara.

Tapi rencana nggak selalu sama dengan kenyataan. Sudah grabak-grubuk sampai ngos-ngosan, ternyata pesawat di-delay untuk waktu yang nggak bisa ditentukan karena kabut tebal di Palembang. Yah kalo masalahnya kayak gitu gak bisa protes deh. Mending lanjutin tidur di ruang tunggu. Mas-masnya yang dari Garuda kasih pengumuman berita terakhir dari Palembang, kirain kita sudah disuruh naik pesawat tapi ternyata kabut masih belum hilang-hilang. Pelipur lara dari Garuda kita dikasih snack. Snack habis, masih juga belum ada kabar. Pelipur lara selanjutnya kita dikasi makan pagi. Boleh pilih di 2 resto yang ada di dalam bandara. Selesai makan, dapat info kalau penumpang disuruh siap-siap.

Kabutnya pinter banget, bikin penumpang kekenyangan. Bikin satu jam ke Palembang nggak kerasa karena langsung blek tidur setelah take off.

Yang saya heran ya, mentang-mentang kita ke Palembang, di bandara tuh kok ya disambut sama  Anwar Fuadi, si Wong Kito. Apa dia bagian penyambutan tamu di bandara Palembang ?   Hihi… geer ya, orang dia lagi jemput temen-temennya. Tapi beliau sempet  ngasih kartu namanya ke bapak yang jemput kita. Ah politisi itu deket-deketin rakyat kalo ada maunya aja. !

Setelah sms Bayu, saya dapat info rumah makan khas Palembang. Kata Bayu, dari tempat saya nginap tinggal naik angkot atau becak ke arah simpang, dekat Rumah Sakit Caritas. Jalan dikit, di situ tempatnya.

Kami[rame-rame 5 orang] jalan ke sana. Sebelum naik angkot saya tanya sama orang di pinggir jalan untuk tahu arah ke Caritas. Eh ternyata ndilalah rumah sakit itu ada di dekat kami berdiri ! Ya ampyun, Simpang juga kelihatan dari situ. Kami nggak jadi naik angkot/becak tapi jalan kaki.

Ini seperti cerita turis yang mau pergi ke Monas naik becak. Ini ceritanya.

“Bang, ke Monas berapa ?” Kata turis.

“sepuluh rebu, Mister”, kata abang beca.

Karena menurut Lonely Planet di Jakarta apa-apa musti nawar, dia nawarlah ke tukang becaknya.

“Tujuh ribu ya Bang, kan deket bisa kelihatan dari sini”, tawar si turis.

” yey, Mister ogah, kalo gitu mah Bulan juga keliatan dari sini”, jawab si abang becaknya.

 

Atau seperti cerita sobat saya, Aji. Pada suatu hari dia ada wawancara kerja di WTC Sudirman.  Dia nggak paham jalan di Jakarta. Posisi terakhir dia ada di Komdak.Kayaknya sih dari jembatan penyebrangan dia ngelihat tuh gedung WTC. Dengan semangat fresh graduate-nya, jalanlah dia ke arah WTC di siang hari yang bolong. Sukses, ya Ji , ha ha…Bulan juga kelihatan, nggak coba-coba jalan ke sana ?

Baca entri selengkapnya »

Kenapa Orang Begitu Jujur di Facebook ?

Technorati Tags:

Hal ini yang pertama melintas di pikiran saya ketika membuka profile teman-teman di FB. Nama jelas, tanggal lahir, alamat lengkap, email, sekolah, tempat kerja, website dll ditulis dengan lengkap. Kenapa sih orang bisa begitu jujur di FB ?

Kalau teman saya, Wisnu bilang,

beda dunia kali… kalo gue tangkap, di dunia real… susah mengaktualisasikan diri, tapi kalo di internet, elo mo ngapain aja bisa…terserah, gak ada yang ngelarang..kalo di real kan masih ada peraturan2 yang membatasi kebebasan…. hahahahah…. najis banget ya gue…. “

Iya, emang elu najis, Nu. Hhueheuhehe .. badan lo musti disiram air dan pasir 7 kali ! Ini jawaban kayaknya untuk pertanyaan yang lain deh, Nu.

Terus saya tanya Sugeng. Katanya,

” Ga tau gue. kalo gue sih ga pernah jujur ama yg namanya jejaring sosial. liat aja term and condition nya fesbuk. FACEBOOK BERHAK MENGAMBIL DATA, FOTO YANG TERDAPAT DI DALAMNYA.”

Nah itulah pertanyaan saya. Kenapa orang bisa jujur di FB meski sudah ada term & condition seperti itu ?

Baca entri selengkapnya »

Danau Toba – The New 7 Wonders of Nature

Bulan lalu saya vote  Danau Toba agar bisa masuk ke dalam The New 7 Wonders of Nature. Ini bukan karena saya pernah pergi ke sana dan waktu itupun saya belum pernah pergi ke Danau Toba,  tapi lebih karena Danau Toba ada di Indonesia dan saya sebagai orang Indonesia sudah sepatutnya memilih Danau Toba. Selain itu dari Indonesia diwakili oleh Krakatau dan Pulau Komodo.

Sudah diduga kalau vote di internet kontingen Indonesia pasti kalah dengan alasan orang Indonesia yang  internetan kalah banyak dengan negara lain (Padahal menurut hitung-hitungannya Pak Onno, Indonesia bisa dengan mudah menjadi negara pengguna internet terbesar di dunia).  Kalaupun internetan, belum tentu tahu ada site tersebut. Tidak ada gembar-gembor di media massa untuk ikutan sumbang klik. Adem ayem aja tuh, padahal tahun ini ada target 7 juta orang berkunjung ke Indonesia. Sampai hari ini saya lihat Danau Toba ada di urutan 25.

 

Tahun lalu institusi ini juga mengadakan vote The New 7 Wonders of World. Yang masuk 7 besar adalah Chichen Itza Mexico, Christ Redeemer Brazil, Colosseum Italia, Great Wall of China, Machu Picchu Peru, Taj Mahal India dan Petra Jordan.  Secara sinis mungkin kita bisa bilang pemilihan ini seperti pemilihan Idol-idol. Bukan situs resmi dari PBB. Yang penting punya banyak teman dan pulsa untuk sms, bisa deh menang dan terkenal. Apalagi waktu itu Borobudur  nggak masuk dalam list. Uh sebel.

 

Tapi kalau  menang, ini merupakan publikasi yang luar biasa. Contohnya patung Yesus di Brazil yang tahu-tahu mensejajarkan diri dengan Great Wall dan Taj Mahal. Meski dengan berbagai kontroversi tentang hasil pemilihan, publikasi yang mendunia ini setidaknya membukakan mata bahwa ada suatu tempat menarik di suatu negeri sebelah sana yang layak dikunjungi. 

 

Mengacu pada pemilihan tahun lalu, belum tentu pemilihnya adalah cuma orang Meksiko, Brazil , Peru , Cinda, India, Jordan atau Italia saja sehingga bisa menang. Mungkin saja orang Meksiko dan Brazil melakukan vote berulang-ulang sehingga wakilnya bisa menang. Mereka berusaha menang karena mereka tahu efeknya bagi pariwisata di negaranya jika menang. Tapi seratus juta vote juga berasal dari segala penjuru dunia yang mungkin pernah ke sana, atau pingin ke sana lalu vote untuk lokasi-lokasi tersebut meski bukan berada di negara mereka.

 

Minggu lalu saya dapat tugas ke Medan. Seperti pucuk dicita ulam tiba. Saya lalu atur waktu biar bisa pergi ke Danau Toba. Saya rencanakan hari Senin dan Selasa di klien dan hari Rabu pergi ke Toba. Ternyata, hari Rabu tanggal 16 Juli adalah penutupan Pesta Danau Toba . Informasinya saya baca dari spanduk di pintu keluar Bandara juga di depan loby hotel. Dan katanya tanggal 16 Juli Pak SBY akan datang menutup acara tersebut. Kebetulan sekali.

 

Saya lalu menghubungi resepsionis hotel untuk bertanya apakah ada travel ke Danau Toba. Dia bilang tidak tahu dan tidak ada di hotel tersebut. Kalau mau ke sana bisa sewa mobil Rp. 65.000 per jam. Sayang sekali di hotel berbintang  yang memasang spanduk Pesta Danau Toba ternyata tidak ada informasi apapun tentang Pesta tersebut juga akomodasi menuju ke sana.

 

Kami memutuskan menyewa mobil di lain tempat dan berangkat pagi-pagi . Udara Medan yang sejuk di pagi hari dan keramaian khas kota-kota di Indonesia memanjakan mata kami.  Anak-anak pergi ke sekolah setelah libur panjang, pasar-pasar yang memakan sebagian jalan, lalu diikuti dengan deretan kebun kelapa sawit PTPN4 sepanjang jalan.

 

Pak Supir memasang lagu-lagu Panjaitan Bersaudara side A side B bolak-balik.  Saya jadi terlempar ke jaman prasejarah di atas Innova  plat putih yang baru 40 km dipakai jalan.  Alunan Gereja Tuapun membuat saya tertidur.

 

Sayup-sayup ada suara Ariel membangunkan saya.

Hatiku bimbang
Namun tetap pikirkanmu
Selalu, slalu dalam hatiku
Ku melangkah
Sejauh apapun itu
Selalu, kau di dalam hatikuKu berjalan
Berjalan memutar waktu
Berharap, temukan sisa hatimu
Mengertilah
Ku ingin engkau begitu
Mengerti, kau di dalam hatikuTak bisakah
Kau menungguku
Hingga nanti tetap menunggu
Tak bisakah
Kau menuntunku
Menemani dalam hidupku 

 

 

Ternyata punya juga dia kaset yang beginian. Kirain Pak Supir cuma punya  Panbers dan Charles Hutagalung aja.

 

Di Pematang Siantar kami berhenti sebentar untuk membeli roti Ganda. Pasti ada istimewanya roti ini sehingga pagi-pagi sudah banyak orang mengantri.  Rotinya sebenarnya roti tawar bantal biasa yang kemudian dibelah. Yang membuat roti ini terasa istimewa, Baca entri selengkapnya »