Ada tugas mendadak ke Palembang. Ah sebenarnya infonya nggak mendadak, sudah tahu dari 1 minggu yang lalu. Tapi baru dapat konfirmasi keberangkatan jam 8 malem hari Jumat waktu saya dalam perjalanan menuju Puncak. Padahal pesawatnya Sabtu jam 6.05 pagi !! Wah grabak grubuk deh persiapannya. Pulang dari Puncak, buru-buru packing, terus lanjut ke Bandara.
Tapi rencana nggak selalu sama dengan kenyataan. Sudah grabak-grubuk sampai ngos-ngosan, ternyata pesawat di-delay untuk waktu yang nggak bisa ditentukan karena kabut tebal di Palembang. Yah kalo masalahnya kayak gitu gak bisa protes deh. Mending lanjutin tidur di ruang tunggu. Mas-masnya yang dari Garuda kasih pengumuman berita terakhir dari Palembang, kirain kita sudah disuruh naik pesawat tapi ternyata kabut masih belum hilang-hilang. Pelipur lara dari Garuda kita dikasih snack. Snack habis, masih juga belum ada kabar. Pelipur lara selanjutnya kita dikasi makan pagi. Boleh pilih di 2 resto yang ada di dalam bandara. Selesai makan, dapat info kalau penumpang disuruh siap-siap.
Kabutnya pinter banget, bikin penumpang kekenyangan. Bikin satu jam ke Palembang nggak kerasa karena langsung blek tidur setelah take off.
Yang saya heran ya, mentang-mentang kita ke Palembang, di bandara tuh kok ya disambut sama Anwar Fuadi, si Wong Kito. Apa dia bagian penyambutan tamu di bandara Palembang ? Hihi… geer ya, orang dia lagi jemput temen-temennya. Tapi beliau sempet ngasih kartu namanya ke bapak yang jemput kita. Ah politisi itu deket-deketin rakyat kalo ada maunya aja. !
Setelah sms Bayu, saya dapat info rumah makan khas Palembang. Kata Bayu, dari tempat saya nginap tinggal naik angkot atau becak ke arah simpang, dekat Rumah Sakit Caritas. Jalan dikit, di situ tempatnya.
Kami[rame-rame 5 orang] jalan ke sana. Sebelum naik angkot saya tanya sama orang di pinggir jalan untuk tahu arah ke Caritas. Eh ternyata ndilalah rumah sakit itu ada di dekat kami berdiri ! Ya ampyun, Simpang juga kelihatan dari situ. Kami nggak jadi naik angkot/becak tapi jalan kaki.
Ini seperti cerita turis yang mau pergi ke Monas naik becak. Ini ceritanya.
“Bang, ke Monas berapa ?” Kata turis.
“sepuluh rebu, Mister”, kata abang beca.
Karena menurut Lonely Planet di Jakarta apa-apa musti nawar, dia nawarlah ke tukang becaknya.
“Tujuh ribu ya Bang, kan deket bisa kelihatan dari sini”, tawar si turis.
” yey, Mister ogah, kalo gitu mah Bulan juga keliatan dari sini”, jawab si abang becaknya.
Atau seperti cerita sobat saya, Aji. Pada suatu hari dia ada wawancara kerja di WTC Sudirman. Dia nggak paham jalan di Jakarta. Posisi terakhir dia ada di Komdak.Kayaknya sih dari jembatan penyebrangan dia ngelihat tuh gedung WTC. Dengan semangat fresh graduate-nya, jalanlah dia ke arah WTC di siang hari yang bolong. Sukses, ya Ji , ha ha…Bulan juga kelihatan, nggak coba-coba jalan ke sana ?