November 2, 2009 pada 5:32 am (buku)
“Mbak, Ibu Bintari itu siapa, ya ?” Tiba-tiba lelaki di sebelahku itu bertanya, di sela-sela sesi tanya jawab yang dipandu oleh Marissa.
Ups.. agak kaget juga saya. Ini kali kedua saya kaget sama orang itu. Pertama, dia tahu-tahu duduk di kursi sebelah saya tanpa bertanya apakah kursi ini sudah ada yang menempati. Rasanya kalimat itu bukan sekedar basa-basi, tapi mengarah ke sopan santun, apalagi kami berada pada acara yang pastinya dihadiri oleh orang yang , bisa dibilang, berpendidikan. Kalimat bertanya “apa kursi ini sudah ada yang punya ?” , “Is this seat taken ?” seharusnya otomatis dia utarakan, mau di acara ini, mau di KFC atau food court apalah, tempat tunggu dokter dsb. dsb. Ehmm… apa saya yang menuntut terlalu lebih dari orang yang saya nggak kenal ? Bukan sih, cuma kalau dia tanya saya akan jawab bahwa, teman saya yang tadi duduk di sini sedang ke toilet. Dan dia pasti tahu apa artinya.
Saya jawab, “Bintari itu istrinya teman saya.” Sip kan ? Saya pikir pembicaraan berhenti.
Ternyata dia masih tanya ,” Maksud saya Ibu Bintari itu pendidikannya apa, kerjanya di mana , alasan apa dia menulis ?”
Walah
Saya jawab ,” Tadi sudah dijelaskan, mas waktu diawal. Yang saya tahu dia dari IPB,”
“Oh saya datangnya telat. Oya saya wartawan dari majalah ‘bla…bla…bla…”, jawabnya.
Hmm… wartawan kalau mau dapat berita ya mbok datangnya on time dong. Masa tanya ke saya, nara sumber yang bisa saja ngomong ngasal-ngasal. Nggak valid dong.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Agustus 8, 2008 pada 12:11 pm (buku)
Saya ngga kenal Albertine Endah. Nggak bakal ngenalin kalau ketemu di jalan, karena memang nggak hapal mukanya kayak gimana.
Dulu pernah nonton di infotainment tentang Venna Melinda yang bikin buku dengan Albertine Endah. Saya ngga belilah buku itu. Ngga nge-fans sama Venna Melinda soalnya. Jadi beritanya lewat begitu saja.
Eh tapi ternyata dia bikin memoar buat Chrisye. Saya nggak baca juga. Bukannya nggak ngefans sama Chrisye. Cuma males aja lah.
Beribu alasan pokoknya. Pada intinya, saya nggak tertarik membeli buku karya Albertine Endah. Hati saya sudah tertambat di NH Dini.
Tiba saatnya ketika ada cerita bersambung berjudul “Selebriti” di Kompas. Penulisnya Albertine Endah. Satu episode, dua episode lewat. Tapi lama-lama saya kok jadi kecanduan baca cerbung itu. Pernah saya pergi ke luar kota selama seminggu. Jadi agak sakau dan penasaran sama jalan cerita yang terputus. Untung korannya belum diloakin, jadi masih bisa saya baca sepulang dari luar kota.
“Selebriti” ini bercerita tentang Icha, cewe desa yang tergila-gila sama infotainment. Dia hapal nama-nama artis dalam dan luar negeri. Dia hapal semua gosip yang beredar di dunia selebriti, tentunya lewat tayangan infotainment di tivi. Cerita terus bergulir sampai tau-tau dia sendiri terjun di dunia selebriti yang biasanya cuma bisa dia lihat di tivi aja. Ketemu KD yang ramah, Luna Maya yang cantik dan semua selebriti itu tiba-tiba bisa dia lihat langsung.
Dia kemudian jadi asisten artis penyanyi dangdut yang jadi simpanan pejabat yang memperlakukan dia dengan semena-mena. Ketika di penyanyi dangdut dilabrak sama istri pejabat, Icha ikut terpontang-panting, ehh ndilalah ketemu sama wartawan yang mempertemukan dia sama rapper ngetop yang lalu menjadikannya manager artis. Icha yang awalnya ikut ketiban sial gara-gara si penyanyi dangdut serasa menemukan dunia yang menyenangkan. Dia dapat handphone. Punya waktu luang buat belanja-belanja, malah jadi pacar si rapper. Icha sudah bisa ber-tank top seperti mahasiswi-mahasiswi jaman sekarang.
Ternyata dunia gemerlapnya hanya sebentar ketika si rapper kepergok menyimpan ganja. Sialnya, si rapper ketangkap setelah dia mengajak Icha nikah ! Icha lalu memutuskan pulang kampung. Tapi sebelum pulang kampung, seorang superdiva menawari pekerjaan manager artis kepadanya.
Dari penyanyi dangdut simpanan pejabat, rapper yang ngeganja, kemudian dia ketemu superdiva yang ternyata nyandu juga. Bukan nyandu ganja tapi nyandu sex !! Seru kan. Baca entri selengkapnya »
& Komentar