Cita-cita Saya

” Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan berusahalah untuk menggapainya “

Jadul banget ya kedengarannya. Dulu masa-masa SD ketika saling isi Buku Kenangan, yang biasanya terdiri dari kolom-kolom curriculum vitae nama, alamat, tempat tanggal lahir, cita-cita, juga ada kolom ‘kata kenangan’. Ngga tau yang mulai siapa, banyak teman-teman saya yang mengisi kolom kata kenangan dengan ” gantungkan cita-citamu di langit”.

Setelah lama tidak mempersoalkan cita-cita, sekarang akhirnya saya pakai quote tersebut untuk memotivasi Fachry yang sekarang sudah kelas 2. Gurunya bilang kalau Fachry musti sering dimotivasi dan dibimbing agar bisa mengerjakan soal-soal. Di rumah dia malas-malasan belajar. Ketika diajak belajar, alasannya ngantuk. Kadang-kadang saya berhasil memotivasi dia , tapi besoknya sudah lupa belajar. Padahal minggu depan ada EHB.

Dulu Fachry pernah menggantungkan cita-citanya setinggi langit beneran. Dia ingin jadi pilot. Dia tambah bersemangat jadi pilot setelah ketika dalam perjalanan pulang dari Makassar dia diundang melongok ke cockpit pesawat. Pak Pilot dan Pak Co Pilot menyalaminya. Foto Fachry menggunakan topi pilot yang kebesaran bersama-sama kedua pilot dilatarbelakangi panel-panel cockpit pesawat dipajang beberapa lama. Itu dua tahun yang lalu.

Sekarang cita-citanya jadi polisi. Nggak tau apa yang membuatnya ingin jadi polisi. Yang pasti dia senang lihat polisi mengatur lalu lintas atau menangkap penjahat seperti di filem-filem. Saya pernah bilang kalau jadi polisi bakalan kepanasan atau malah kehujananan di jalan. Dia diam saja. Beberapa hari berlalu, ketika ditanya cita-citanya, dia masih tetap ingin jadi polisi.

Saya bilang Fachry, kalau mau jadi polisi harus pandai berhitung.

“Apa itu berhitung ?” tanya Fachry.

Saya kasih tau kalau berhitung itu sama dengan Matematika. Fachry juga harus pandai IPA.

“Apa itu IPA ?” tanyanya lagi.

“IPA itu Sain,” jawab saya.

“Oke, aku mau belajar. Tapi sebentar aja ya soalnya aku mau main Naruto,” katanya mencoba menawar.

“Ayo kita belajar perkalian ,” kata saya memulai pelajaran.

Baru satu kali satu sama dengan satu, dua kali satu sama dengan dua, dia berkata sambil lari ke kamar

” Bu, aku mau liat adik sudah tidur atau belum ya, aku mau sayang dulu.”

Yah…. bubar deh pelajaran hari ini !

Ketika makan malam berdua, kami melanjutkan obrolan. Saya cerita tentang Kidzania, tempat bermain baru dimana anak-anak bisa berperan sesuai dengan profesi yang dia mau. Saya janji setelah EHB Fachry akan diajak ke sana.
 

“Aku bisa jadi polisi, ya bu ?” tanyanya.
 

“Bisa. Fachry dipinjemin baju polisi kalau mau jadi polisi. Fachry bisa pilih jadi pilot, petugas pemadam kebakaran, dokter dan lain-lain,” jawab saya.
 

“Tapi nanti aku diajarin dulu ya ?” tanyanya.

“Iya. Ada kakak-kakak yang ngajarin,” kata saya, meski saya juga belum begitu jelas aturan main di sana.

“Bu, nanti aku mau belajar bahasa Inggris ya,” katanya.

“Oke.”

“Soalnya nanti kalau penjahatnya orang Inggris, masa polisinya nggak ngerti mau ngomong apa,” katanya sambil tertawa-tawa. Ha ha ha … lucu juga.
 
*** 

Memiliki cita-cita setinggi langit adalah hal yang mudah. Tinggal bilang mau jadi pilot, astronot, dokter, antropolog, apoteker, pengolah limbah, tukang kue dan sebagainya. Masalahnya adalah gimana supaya cita-cita itu tercapai. Kadang-kadang, kita musti ukur diri juga untuk menentukan cita-cita atau target lainnya. Cari aman lah.
 

Ini pernah saya alami ketika presentasi program untuk suatu jabatan di Pramuka, yaitu jadi Pratama Putri, jabatan prestisius yang jadi incaran semua orang. Saya musti buat program. Buat saya, program itu adalah suatu target yang harus kita capai dalam tempo satu tahun. Kalau saya buatnya ketinggian, kan cuma lip service aja. Saya mau buat yang setahun ini bisa dijalankan sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan organisasi kami. Karena target program saya begitu sederhana dan rival saya punya target yang lebih bombastis, akhirnya saya kalah.
 

Mau tau program saya apa ? Begini. Buat saya yang masih SMP kala itu, naik gunung adalah sesuatu yang prestisius, keren, asik banget. Tadinya saya mau tulis program naik gunung. Cuma kok kayaknya saya nggak yakin kita bisa melakukannya. Akhirnya program untuk jadi Pratama Putri saya ubah jadi NAIK BUKIT !
 

Tau kan jadinya ? Baca entri selengkapnya »

(Kalau) Saya Istri Fauzi Badilla

Ini sebenarnya perjalanan yang tidak direncanakan, setidaknya seminggu sebelum berangkat saya nggak kepikiran untuk pergi. Tapi semuanya kalau sudah diatur Allah, pasti akan terjadi. Akhirnya saya pergi.

Saya baca beberapa blog tentang perjalanan ke Manila. Kok banyak yang tidak menyenangkan. Dari antrian imigrasi yang panjang banget, petugas jutek. Antrian ambil bagasi yang lama banget , malah saya baca sebaiknya nggak taro barang di bagasi. Belum lagi pada saat pemeriksaan barang musti ada acara buka sepatu buka sendal. Aneh juga. Supir taksi yang belagu-belagu.
 

Kesan yang ‘nggak jauh’ dari Jakarta ini bikin saya jadi agak waspada. Bayangan saya, kalau saya memposisikan diri jadi orang asing yang pertama kali masuk Jakarta, ini juga dari cerita-cerita lho. Dipalakin petugas, dipalak orang-orang yang pura-pura ramah mau bantu angkut bagasi, dipalak supir taksi dibawa putar -putar seolah si supir amnesia sama kotanya sendiri. Biasanya yang punya pengalaman buruk segera komplain ke segala penjuru. Yang paling umum sih cerita-cerita kabar jelek soal Jakarta ke teman-teman karena protes ke instansi terkait paling dicuekin. Atau yang pingin lebih dibaca orang banyak biasanya tulis di surat pembaca. Yang hobi ngeblog, kemana lagi kalau bukan tulis di blog. Mudah-mudahan sih didengar. Tapi kalau kita bukan siapa-siapa, taulah sendiri respon dari petugas.
 

Sebagai orang asing di negeri asing pasti bingung tujuh keliling kalau kejadian dipalak petugas. Nggak tau musti ngadu ke mana lagi lha wong petugasnya sendiri yang bikin kasus. Seperti Zenk Lotta gitu deh. Sapa tuh ? Baca entri selengkapnya »