Kenal Insinyur Bowo ? Dia bukan insinyur lulusan tahun 90-an atau 2000-an. Sepertinya lulus 25 atau 30 tahun yang lalu, mangkanya dia nggak segan pakai gelar insinyur di depan namanya. Insinyur sekarang kan jarang sekali yang buat kartu nama lengkap dengan gelar. Coba saja lihat kartu nama orang Indosat, Telkom, XL atau perusahaan sarang-sarang insinyur lainnya. Nggak ada tuh yang cantumin gelar. Pertama mungkin karena itu policy perusahaan, kedua mungkin karena sifat rendah hati sehingga nggak mau pamer [lagian kayak gituan aja dipamerin], yang ketiga mungkin lho karena tidak mau terlalu bertanggung jawab kalau ada problem teknis terus ada pertanyaan ’siapa nih insinyurnya ?’ Insinyur sekarang lebih berani taro gelar ST (Sarjana Teknik) ketika bikin surat undangan kawin, seenggak-enggaknya bikin orang tua bangga bisa nyekolahin anaknya sampai jadi insinyur. Padahal nggak ada hubungannya kawin sama gelar. Tapi Insinyur Bowo, dia dengan gagah berani menggunakan gelarnya. Lha wong udah cape-cape sekolah, kata beliau.
Oya, kenal Insinyur Bowo, nggak ? Ah …banyak sebenarnya yang namanya Bowo jadi insinyur, meski udah lama nggak ada lulusan di Indonesia yang pakai gelar insinyur lagi setelah lulus kuliah teknik, yang ada gelar Sarjana Teknik. Tapi tetep saja istilah insinyur dipakai. Contohnya ,” Jeung, anak saya sebentar lagi diwisuda jadi insinyur lhoo.” Sekarang, anak-anak lulusan teknik biasanya disebut engineer. Engineer – Insinyur …. apalah bedanya. Tapi terserah lah, saya cuma mau refresh cerita tentang Insinyur Bowo.
Cerita ini di-refresh karena Insinyur Bowo adalah tokoh rekaan dalam kaset lama Warkop DKI, grup lawak yang nggak perlu diterangkan lagi siapa mereka. Singkat cerita begini [karena cerita ini sudah lama banget, jadi banyak di-intervensi oleh improvisasi saya, tapi sama sekali tidak mengurangi makna cerita aslinya] :
Bowo yang sekarang sudah jadi insinyur ditantang untuk buat inovasi mengenai mesin cuci [kalau insinyur sekarang tantangannya adalah gimana bikin CV keren]. Setelah lama meneliti di lab, dia pamerkan ke khalayak mesin cuci yang bertenaga 5 Watts, setara dengan lampu pijar remang-remang, setara dengan mata orang yang ngantuk berat kan suka dibilang matanya tingga lima Watts.
Insinyur Bowo lalu presentasi dengan memasukkan sapu tangan kotor. Satu detik … dua detik … ciaaattt … . tiga detik sapu tangan keluar bersih rapi sudah disetrika. Orang-orang tepuk tangan.
Lalu mesin cuci diuji lagi. Dimasukkanlah kaos kaki putih yang kotor dan bau. Satu detik … lima detik …. ciaaaattttt ….. tujuh detik kaos kaki sudah putih bersih wangi siap dipakai. Orang-orang tepuk tangan.
Hmm… ada yang penasaran, lalu memasukkan kaos yang habis dipakai main bola di lapangan becek. Satu menit …. dua menit …. ciaaaaattt …. lima menit kaos sudah bersih, licin, aroma wanginya menyebar ke mana-mana. Tambah keras orang-orang tepuk tangan.
Tiba-tiba, ada orang lari-lari ke dalam ruangan bawa seprei ukuran jumbo sekalian bed covernya langsung dia masukkan ke mesin cuci. Satu menit …. dua menit ….. eehh …. satu jam …. dua jam …. Kok nggak kelar-kelar. Orang-orang berdebar menunggu. Nggak sabar nunggu sampai tiga jam mereka melongok ke dalam mesin cuci. Ehhhh …. Ternyata ….. ada lampu pijar 5 watts dan Insinyur Bowo sedang mencuci di dalamnya !
Kalau saya yang cerita nggak lucu kali ya. Baca entri selengkapnya »