Tiket Online PT KAI

Sebagai orang yang lahir dan hidup di Jakarta, juga saudara-saudara Bapak dan Ibu sebagian besar di Jakarta, Mbah Kung  juga Mbah Putri yang sudah lama nggak ada, eh masih ada satu Mbah Putri deng … saya dan keluarga tidak pernah mengkhususkan diri mudik ketika Lebaran. Keluarga besar saya ada di Jakarta, jadi kami menghabiskan waktu  Lebaran di Jakarta. Karena itu saya tidak pernah merasakan berdesak-desakan antri tiket di Gambir, apalagi naik Kereta Sapu Jagat … nggak pernah.

Setelah menikah, barulah kosa kata mudik masuk di hidup saya. Akhirnya saya mudik juga, bukan ke kota-kota di Jawa, kami ke Makassar yang pastinya tidak menggunakan moda transportasi darat, khususnya kereta api.  Tapi biaya pesawat  Jakarta – Makassar pp  aduh besar sekali. Pernah saya mau coba pesan tiket kereta Jakarta – Surabaya terus dilanjut beli tiket pesawat Surabaya -Makassar. Setelah dihitung-hitung, hematnya nggak seberapa dibanding naik pesawat tapi makan waktu lebih lama, musti nginep segala di Surabaya, ribet lah, tidak jadi deh pakai sistem estafet gitu. Dan saya tidak jadilah antri tiket mudik di Gambir.

 

Meski tidak pernah antri tiket mudik di Gambir,  saya bisa deh ngerasakan betapa sebalnya ketika sudah antri sekian jam ternyata pas giliran kita maju ke loket, tiketnya habis.  Apalagi kalau loket baru dibuka satu menit tiket 8 gerbong langsung habis !  Yang ternyata penyebabnya adalah penerapan sistem online  pada pembelian tiket. 

 

Tadinya saya pikir  kita di rumah bisa browsing site PT KAI dan beli tiket secara online via Internet model Air Asia atau Garuda, mangkanya dalam tempo 1 menit bisa laku tiket 8 gebong atau sama dengan 512 tempat duduk. Hebat banget, ya dan ini terjadi di negara yang 68% penduduknya belum melek Internet. (68% = hitungan data statistik cepat ala Roy Suryo).  Kalau online via Internet model  begitu saya percaya deh. Karena bisa jadi ada 512 orang online secara bersamaaan dengan maksud yang sama membeli tiket untuk hari dan jam yang sama.   Misal masih tersedia gerbong, PT KAI bisa menjual 50 gerbong lagi dalam tempo 5 menit, 480 gerbong sejam !!! … sekali lagi kalau  kapasitasnya tersedia yaa.

 

Tapi ternyata paragraf selanjutnya dalam berita di Detik berkata lain. Sistem online di sini maksudnya, PT KAI sekarang sudah memiliki loket penjualan tiket online yang tersebar di Jabotabek, yaitu di Bekasi, Bogor, Merak , Jakarta Kota, Tanah Abang dan 10 agen perjalanan resmi.  Jadi ada 15 titik yang saling terhubung entah pakai copper wire, FO, Broadband Wireless, VSAT atau malah dial-up, pokok nya membuat satu network yang kemudian mengoperasikan software pembelian tiket. Bayangan saya sistemnya seperti ini : Kalau misalnya ada jatah 500 tiket,  kemudian ada yang beli 10 tiket di Tanah Abang, segera setelah petugas tiket Tanah Abang submit ke sistem, maka di titik penjualan di Bogor bisa dilihat tiket yang tersedia jadi 490.  Sistem ini dianggap fair dan tidak perlu quota-quota-an segala. Tapi apa benar fair dari segala sisi ?  ….maksud looo …??

 

Jadi begini , pertama saya surprais, sama seperti Wakil Kepala Stasiun Gambir Bapak A. Sudharta. Betapa cepat sistem online itu bekerja. Ya transmisinya , ya aplikasinya. Tapi proses pembelian tiket kan bukan itu doang. Coba kita hitung waktu. Misalkan mbak-mbak petugas di Merak membuka gorden loket tepat pukul 7.00, sebelumnya kemungkinan dia sudah menyalakan komputer yang makan waktu 1, 2, 3 menit atau lebih lama tergantung processor masing-masing. Kemudian dia juga sudah ‘klik’ menu aplikasi supaya sudah siap siaga diserbu para pemudik.  Dia juga sudah isikan username dan password untuk masuk ke aplikasi online tersebut. Saya pakai porsedur standar suatu aplikasi yaaa …. Bisa aja sih komputer dan aplikasinya sudah siap 24 jam nggak pernah dimati-matiin. Pokoknya sekarang si mbak sudah siap bekerja. Stopwatch bekerja !

 

7.00 : Siap melayani pembelian tiket

7.01 : Pembeli pertama. Pasti ada percakapan ya… gak mungkin si mbak punya Scanner Wajah yang dia acungkan ke wajah pembeli lalu dia tau si pembeli mau beli tiket tanggal berapa, ke mana dan berapa banyak.

 

Si Mbak : Selamat pagi pak. Mau beli tiket ke mana ? (standar Customer Service yang sopan ke Customernya)

Pembeli pertama : Ke Surabaya , Mbak. 10 karcis (kadang-kadang kita bilang karcis, kadang-kadang tiket..ya sama aja deh)

Si Mbak : ow…banyak yaa … bukan calo kan, Mas ? He he .. Maaf lhoo..becanda

Pembeli pertama : Ohh…hehe ..mbak becandanya lucu deh … bukan kok saya bukan calo, kebetulan aja anak saya ada 8 ,mau pada ikut sungkem ke Eyangnya.

Si Mbak : Wahh… gak keliatan deh udah punya anak, 8 lagi, produktif yaa. Ehh .. Yaa… tanggal berapa perginya ? (akhirnya si Mbak ingat pekerjaan utamanya adalah sebagai penjual tiket)

Pembeli pertama : tanggal 10 Oktober, Mbak

Si Mbak : Sebentar ya Mas, saya ketik dulu. (Si Mbak lalu mengetik 8 jari tak tik tak tik ….)

Si Mbak : Udah jadi ni Mas, harganya tiga juta limapuluh ribu rupiah (ini asal-asalan gue aja yaa … ), mau nggak ?

Pembeli pertama : Oke deh

 

 Dengan sekali ‘enter’, lalu di printer dot matrix di depannya berbunyi srroottt…. Sroottt….setelah jadi kertasnya ditarik …slerrreeettt…

 

Si Mbak : ini, Mas.

Pembeli pertama : Terima Debit BCA, nggak Mbak ?

Si Mbak : Wah mesinnya lagi rusak , pak.

Pembeli pertama : Kalau Citibank ?

Si Mbak : Yah , pak … masa beli tiket kereta pake ngutang sih. Emang nggak punya cash ? (Si Mbak sudah pasang muka cemberut)

Pembeli pertama : ada sih …. , nih … Cuma takut nggak ada kembaliannya aja, abis kan saya urutan pertama … … (katanya sambil memberikan uang tigajuta seratus ribu rupiah ke si Mbak)

Si Mbak : Iya sih… tunggu ya saya tuker sama duit saya dulu deh.

Lalu si Mbak memberikan kembalian limapuluh ribu rupiah.

 

Selesai deh pembeli pertama. Berapa menit ??? 3  menit kali yaa … kita andaikan saja pembicaraan berlangsung dengan sangat cepat, seperti kaset yang di-fastforward.

 

Sementara sistem online bekerja, mengirimkan angka-angka digital melalui lorong-lorong maya pada frekuensi-frekuensi tertentu ke induk sistem di Gambir (misalnya). Berhubung lokasi di Merak belum terjangkau FO dan Broadband Wireless, menggunakan VSAT SCPC adalah pilihan terbaik. Maka digit 1 dan 0 itupun ikut terbang ke angkasa mencari transponder yang sesuai dan kemudian meluncur dengan  cepat menukik dan  mengarah ke sistem induk di Gambir, yang lalu mengolah data sesuai algoritma yang disepakati ketika sistem ini dibentuk.

 

7.04 :

Pembeli kedua, yang ternyata adalah anda, baru setengah mangap mau bilang “Mbak pesen tiket ke Surabaa…..” ehh mbak penjual tiket senyum aja sembari bilang,” maaf mas tiket habis, laris manis tanjung kimpul” sembari juga tangannya menutup gorden yang baru 5 menit yang lalu dibuka. Ah enaknya tugas hari ini Cuma melayani satu orang tapi dagangan langsung habis.

 

Anda tidak usah malu mangap sendiri , mari kita mangap sama-sama Pak A. Sudharta juga.

 

Faktanya satu menit bisa laku 512 tiket, yang sama saja tiket laku pada transaksi pertama di 15 titik penjualan.  Kalau loket di Merak ini dalam satu transaksi menjual tiket 10 lembar, maka rata-rata pembeli pertama di 14 titik penjualan membeli sebanyak : 502/14 = 35 tiket  !!!  Dan ini benar adanya karena sesuai dengan fakta tanggal 12/9/2007. ” Satu Menit, Tiket 8 Gerbong Habis !”

 

Ah yaa … di bulan yang suci dan penuh berkah ini, rasanya akan menodai ibadah kalau kita syakwasangka terhadap petugas, sistem online PT KAI, ataupun pelaksanaan yang terlihat aneh ini.  Saya cuma membaca berita dan mencoba berhitung logika, karena sistem logika juga yang dipakai untuk meng-coding digit demi digit sehingga membentuk suatu sistem yang bertujuan mengurangi antrian tiket di Gambir. Kalau tujuannya cuma itu, tak perduli ada atau tidak ada calopun PT KAI sudah untung,  maka sistem  online jelas sudah berjalan dengan baik.

 

 Dan Pak Sudharta, silakan anda terus mangap  bersama semua pimpinan PT KAI lainnya.

 

About these ads

6 thoughts on “Tiket Online PT KAI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s