h1

Kenapa Orang Begitu Jujur di Facebook ?

Desember 5, 2008
Technorati Tags:

Hal ini yang pertama melintas di pikiran saya ketika membuka profile teman-teman di FB. Nama jelas, tanggal lahir, alamat lengkap, email, sekolah, tempat kerja, website dll ditulis dengan lengkap. Kenapa sih orang bisa begitu jujur di FB ?

Kalau teman saya, Wisnu bilang,

beda dunia kali… kalo gue tangkap, di dunia real… susah mengaktualisasikan diri, tapi kalo di internet, elo mo ngapain aja bisa…terserah, gak ada yang ngelarang..kalo di real kan masih ada peraturan2 yang membatasi kebebasan…. hahahahah…. najis banget ya gue…. “

Iya, emang elu najis, Nu. Hhueheuhehe .. badan lo musti disiram air dan pasir 7 kali ! Ini jawaban kayaknya untuk pertanyaan yang lain deh, Nu.

Terus saya tanya Sugeng. Katanya,

” Ga tau gue. kalo gue sih ga pernah jujur ama yg namanya jejaring sosial. liat aja term and condition nya fesbuk. FACEBOOK BERHAK MENGAMBIL DATA, FOTO YANG TERDAPAT DI DALAMNYA.”

Nah itulah pertanyaan saya. Kenapa orang bisa jujur di FB meski sudah ada term & condition seperti itu ?

Baca entri selengkapnya »

h1

Albertine Endah Si Selebriti

Agustus 8, 2008

 

Saya ngga kenal Albertine Endah.  Nggak bakal ngenalin kalau ketemu di jalan, karena memang nggak hapal mukanya kayak gimana.

 

Dulu pernah nonton di infotainment tentang Venna Melinda yang bikin buku dengan  Albertine Endah. Saya ngga belilah buku itu. Ngga nge-fans sama Venna Melinda soalnya.  Jadi beritanya lewat begitu saja.

 

Eh tapi ternyata dia bikin memoar buat Chrisye. Saya nggak baca juga. Bukannya nggak ngefans sama Chrisye. Cuma males aja lah.

 

Beribu alasan pokoknya. Pada intinya, saya nggak tertarik membeli buku karya Albertine Endah. Hati saya sudah tertambat di NH Dini.

 

Tiba saatnya ketika ada cerita bersambung berjudul “Selebriti” di Kompas. Penulisnya Albertine Endah. Satu episode, dua episode lewat. Tapi lama-lama saya kok jadi kecanduan baca cerbung itu. Pernah saya pergi ke luar kota selama seminggu. Jadi agak sakau dan penasaran sama jalan cerita yang terputus. Untung korannya belum diloakin, jadi masih bisa saya baca sepulang dari luar kota.

 

“Selebriti” ini bercerita tentang Icha,  cewe desa yang tergila-gila sama infotainment. Dia hapal nama-nama artis dalam dan luar negeri. Dia hapal semua gosip yang beredar di dunia selebriti, tentunya lewat tayangan infotainment di tivi. Cerita terus bergulir sampai tau-tau dia sendiri terjun di dunia selebriti yang biasanya cuma bisa dia lihat di tivi aja. Ketemu KD yang ramah, Luna Maya yang cantik dan semua selebriti itu tiba-tiba bisa dia lihat langsung.

 

Dia kemudian jadi asisten artis penyanyi dangdut yang jadi simpanan pejabat yang memperlakukan dia dengan semena-mena.  Ketika di penyanyi dangdut dilabrak sama istri pejabat, Icha ikut terpontang-panting, ehh ndilalah ketemu sama wartawan yang mempertemukan dia sama rapper ngetop yang lalu menjadikannya manager artis. Icha yang awalnya ikut ketiban sial gara-gara si penyanyi dangdut serasa menemukan dunia yang menyenangkan. Dia dapat handphone. Punya waktu luang buat belanja-belanja, malah jadi pacar si rapper. Icha sudah bisa ber-tank top seperti mahasiswi-mahasiswi jaman sekarang.

 

Ternyata dunia gemerlapnya hanya sebentar ketika si rapper kepergok menyimpan ganja. Sialnya, si rapper ketangkap setelah dia mengajak Icha nikah ! Icha lalu memutuskan pulang kampung. Tapi sebelum pulang kampung, seorang superdiva menawari pekerjaan manager artis kepadanya.

 

Dari penyanyi dangdut simpanan pejabat, rapper yang ngeganja, kemudian dia ketemu superdiva yang ternyata nyandu juga. Bukan nyandu ganja tapi nyandu sex !! Seru kan. Baca entri selengkapnya »

h1

Danau Toba – The New 7 Wonders of Nature

Juli 22, 2008

Bulan lalu saya vote  Danau Toba agar bisa masuk ke dalam The New 7 Wonders of Nature. Ini bukan karena saya pernah pergi ke sana dan waktu itupun saya belum pernah pergi ke Danau Toba,  tapi lebih karena Danau Toba ada di Indonesia dan saya sebagai orang Indonesia sudah sepatutnya memilih Danau Toba. Selain itu dari Indonesia diwakili oleh Krakatau dan Pulau Komodo.

Sudah diduga kalau vote di internet kontingen Indonesia pasti kalah dengan alasan orang Indonesia yang  internetan kalah banyak dengan negara lain (Padahal menurut hitung-hitungannya Pak Onno, Indonesia bisa dengan mudah menjadi negara pengguna internet terbesar di dunia).  Kalaupun internetan, belum tentu tahu ada site tersebut. Tidak ada gembar-gembor di media massa untuk ikutan sumbang klik. Adem ayem aja tuh, padahal tahun ini ada target 7 juta orang berkunjung ke Indonesia. Sampai hari ini saya lihat Danau Toba ada di urutan 25.

 

Tahun lalu institusi ini juga mengadakan vote The New 7 Wonders of World. Yang masuk 7 besar adalah Chichen Itza Mexico, Christ Redeemer Brazil, Colosseum Italia, Great Wall of China, Machu Picchu Peru, Taj Mahal India dan Petra Jordan.  Secara sinis mungkin kita bisa bilang pemilihan ini seperti pemilihan Idol-idol. Bukan situs resmi dari PBB. Yang penting punya banyak teman dan pulsa untuk sms, bisa deh menang dan terkenal. Apalagi waktu itu Borobudur  nggak masuk dalam list. Uh sebel.

 

Tapi kalau  menang, ini merupakan publikasi yang luar biasa. Contohnya patung Yesus di Brazil yang tahu-tahu mensejajarkan diri dengan Great Wall dan Taj Mahal. Meski dengan berbagai kontroversi tentang hasil pemilihan, publikasi yang mendunia ini setidaknya membukakan mata bahwa ada suatu tempat menarik di suatu negeri sebelah sana yang layak dikunjungi. 

 

Mengacu pada pemilihan tahun lalu, belum tentu pemilihnya adalah cuma orang Meksiko, Brazil , Peru , Cinda, India, Jordan atau Italia saja sehingga bisa menang. Mungkin saja orang Meksiko dan Brazil melakukan vote berulang-ulang sehingga wakilnya bisa menang. Mereka berusaha menang karena mereka tahu efeknya bagi pariwisata di negaranya jika menang. Tapi seratus juta vote juga berasal dari segala penjuru dunia yang mungkin pernah ke sana, atau pingin ke sana lalu vote untuk lokasi-lokasi tersebut meski bukan berada di negara mereka.

 

Minggu lalu saya dapat tugas ke Medan. Seperti pucuk dicita ulam tiba. Saya lalu atur waktu biar bisa pergi ke Danau Toba. Saya rencanakan hari Senin dan Selasa di klien dan hari Rabu pergi ke Toba. Ternyata, hari Rabu tanggal 16 Juli adalah penutupan Pesta Danau Toba . Informasinya saya baca dari spanduk di pintu keluar Bandara juga di depan loby hotel. Dan katanya tanggal 16 Juli Pak SBY akan datang menutup acara tersebut. Kebetulan sekali.

 

Saya lalu menghubungi resepsionis hotel untuk bertanya apakah ada travel ke Danau Toba. Dia bilang tidak tahu dan tidak ada di hotel tersebut. Kalau mau ke sana bisa sewa mobil Rp. 65.000 per jam. Sayang sekali di hotel berbintang  yang memasang spanduk Pesta Danau Toba ternyata tidak ada informasi apapun tentang Pesta tersebut juga akomodasi menuju ke sana.

 

Kami memutuskan menyewa mobil di lain tempat dan berangkat pagi-pagi . Udara Medan yang sejuk di pagi hari dan keramaian khas kota-kota di Indonesia memanjakan mata kami.  Anak-anak pergi ke sekolah setelah libur panjang, pasar-pasar yang memakan sebagian jalan, lalu diikuti dengan deretan kebun kelapa sawit PTPN4 sepanjang jalan.

 

Pak Supir memasang lagu-lagu Panjaitan Bersaudara side A side B bolak-balik.  Saya jadi terlempar ke jaman prasejarah di atas Innova  plat putih yang baru 40 km dipakai jalan.  Alunan Gereja Tuapun membuat saya tertidur.

 

Sayup-sayup ada suara Ariel membangunkan saya.

Hatiku bimbang
Namun tetap pikirkanmu
Selalu, slalu dalam hatiku
Ku melangkah
Sejauh apapun itu
Selalu, kau di dalam hatikuKu berjalan
Berjalan memutar waktu
Berharap, temukan sisa hatimu
Mengertilah
Ku ingin engkau begitu
Mengerti, kau di dalam hatikuTak bisakah
Kau menungguku
Hingga nanti tetap menunggu
Tak bisakah
Kau menuntunku
Menemani dalam hidupku 

 

 

Ternyata punya juga dia kaset yang beginian. Kirain Pak Supir cuma punya  Panbers dan Charles Hutagalung aja.

 

Di Pematang Siantar kami berhenti sebentar untuk membeli roti Ganda. Pasti ada istimewanya roti ini sehingga pagi-pagi sudah banyak orang mengantri.  Rotinya sebenarnya roti tawar bantal biasa yang kemudian dibelah. Yang membuat roti ini terasa istimewa, Baca entri selengkapnya »

h1

Susu Basi di Hipermarket Terkenal atau – Susu Kotak Frisian Flag Basi di Carrefour Ambasador -

Juli 3, 2008

 Saya beli susu kotak UHT di suatu hipermarket. Malamnya anak saya minum susu itu, lalu bilang kalau susunya nggak enak. Setelah saya cicipi, ternyata benar. Susunya asam.  Saya putar-putar kotak susu itu mencari siapa tahu ada lobang kecil yang bocor. Kayaknya nggak ada,sih. Atau nggak kelihatan saking kecilnya. Tapi kemasan masih sangat bagus. Nggak penyok apalagi basah.

 Saya telpon customer service susu kotak tersebut, tapi selalu dijawab oleh answering machine. Malas deh ngomong sama mesin.

 

Saya telpon ke hipermarket tersebut agar mereka bisa antisipasi siapa tahu dalam semua batch pengiriman susu tersebut bermasalah sehingga mereka bisa menarik sementara susu yang dipajang di supermarket untuk ditest. Kesian kan orang-orang yang terlanjur beli.  Mereka tidak mau melakukan itu tanpa bukti dari saya. Mereka bilang akan memberi ganti rugi susu yang sudah saya beli.

 

Kalau ganti rugi yang cuma sebelasan ribu rupiah, ngapain saya ngoyo ke sana. Jalanan macet, nggak becek sih, tapi susah parkir, ongkosnya lebih dari sebelas ribu rupiah.  Sementara di pikiran saya, ada anak lain yang juga meminum produk bermasalah itu, trus sakit. Siapa tanggung jawab ?

 

Cerita jelasnya begini :

Tanggal 27 Mei 2008 saya belanja di Carrefour Ambasador. Tepat pukul 20.21:43 saya bayar di kasir, sesuai dengan slip CC. Di antara belanjaan saya ada susu kotak Frisian Flag beberapa bungkus. Sampai di rumah, anak saya yang kecil, 2 1/2 tahun, minta susu kotak tersebut.  Baru dia minum sedikit, matanya berkejap-kejap, lalu dia bilang susunya nggak enak. Saya ambil susu kotak itu lalu saya cicipi. Eh …memang benar. Asam dan cair, disertai gerindil-gerindil nggak tau apa. Baca entri selengkapnya »

h1

Profesi di Film dan Sinetron

April 6, 2008

 Dari jaman dulu sampai sekarang, profesi tokoh-tokoh di filem atau sinetron sepertinya tidak berkembang.  Saya coba urutin, ya  yang biasa muncul adalah profesi sebagai berikut :

  1. Guru
  2. Dokter
  3. Suster
  4. PSK
  5. Tukang becak
  6. Supir Bajaj
  7. Insinyur
  8. Pengacara
  9. Model
  10. Penyanyi, terutama penyanyi pub
  11. Polisi
  12. Wartawan
  13. Penulis
  14. Pedagang
  15. Nelayan
  16. Petani
  17. Lurah
  18. Ketua RT/RW
  19. Direktur
  20. Sekretaris
  21. Satpam

 

Yang kayaknya  ga pernah muncul di filem atau sinetron, saya urutkan ngambil dari katagori pekerjaan di Jobsdb :

  • Accounting
  • Penagih pajak
  • Auditor
  • Arsitek
  • Business Development
  • Energi/Natural Resources
  • Engineering
  • IT
  • Pertambangan
  • Riset & Pengembangan
  • Telekomunikasi

 

Dari katagori ini masih banyak turunan profesi yang bisa kesebut seperti :

  • Purchasing Staff
  • Stock Control Staff
  • Network engineer
  • NMS Engineer
  • Radiowave Installer
  • Tower Maintenance
  • FO Engineer
  • Switching Engineer
  • System Analys
  • Research Analys
  • ERP/Project Management
  • Application Development
  • Programmer
  • dll

 

Kenapa mereka nggak muncul di film atau sinetron ? Kenapa bisa begitu ? Mari kita ambil contoh posisi Programmer :

  • Dengan posisi Programmer, dialog di sinetron tidak berkembang. Cuman ngomongin coding, mana ada yang ngerti. Baca entri selengkapnya »
h1

Try Out Akbar Nasional 2008

April 6, 2008

Minggu pagi nan cerah sehabis semalam kilat menyambar dan hujan di sebagian Jakarta, saya ikut terlibat dalam Try Out Akbar Nasional yang diadakan oleh Bimbingan Belajar Bintang Pelajar di Gelora Bung Karno. Tau kan kalo hari minggu pagi ke Senayan ? Hari minggu biasa aja macet apalagi hari ini ada  8932 anak SD, 7664 anak SMP dan 1962 anak SMA ikutan Try Out beserta ibunya, bapaknya, gurunya, adik kakaknya, pacarnya dll yang ikutan nganterin.

Saya tahu detail jumlah siswa yang ikutan, setidaknya mereka yang mengumpulkan lembar jawab,  karena pemeriksaan ujian dikerjakan oleh kantor saya. Kami periksa pakai scanner dan software pembaca tanda (Mark Reader) , dengan demikian proses pemeriksaan menjadi cepat dibanding periksa cara manual.

Semua yang pernah ikutan ujian masuk perguruan tinggi pasti kenal kertas lembar jawab yang pengisiannya musti dibuderin penuh. Kertas lembar jawab yang dipakai Try Out itu juga seperti kertas lembar jawab ujian masuk perguruan tinggi. Untuk SMP dan SMA jawaban dibuletin penuh, kalau untuk SD dengan tanda silang.

Secara umum, hasil pengisian anak SMP dan SMA lebih bagus dari SD. Artinya, anak SMP dan SMA sudah tahu cara pengisian yang benar. Sedangkan hasil pengisian anak SD masih banyak yang salah. Contohnya, bila namanya ARA, maka setelah menulis nama ARA, dia harus memberi tanda silang di huruf A pada lajur pertama, memberi tanda silang pada huruf R di lajur ke dua dan menyilangkan huruf A di lajur ke tiga. Banyak anak-anak yang menyilangkan huruf A, R dan A di lajur pertama. Dengan demikian software tidak bisa membaca lembar jawaban dengan benar.

Untuk adik-adik SD, SMP dan SMA,  kami  memberikan  tips dan trick menghadapi ujian agar bisa berhasil dan terhindar dari halangan non teknis yang seharusnya sudah bisa diantisipasi.

 

  • Sehari sebelum ujian jangan begadang, jaga kesehatan, dan tidur yang cukup
  • Biar kamu ga nyasar dan bingung cek dulu dong lokasi sehari sebelum pelaksanaan ujian
  • Sarapan secukupnya aja biar ga keroncongan pas lagi mikir
  • Dateng lebih cepat pasti oks banget, adaptasi ama suasana biar enak
  • Kenakan pakaian yang nyaman, rapi dan sopan, biar pede pas ujian, sembari ngarep ketemu kecengan
  • Persiapkan alat tulis beserta cadangan
  • Nomor ujian, kartu ujian, jangan sampai ilang atau lupa ga kebawa
  • Matiin hape selama ujian, biar ga keganggu pas lagi mikir
  • Jangan lupa perlengkapan tambahan jika ada, jam tangan, tissue/sapu tangan

 

Pada saat hari H ada juga tips dan tricknya :

 

  • Awali dengan doa, supaya hati mantab menjawab setiap soal yang ada
  • Pastikan pensil yang kamu pake buat ujian pas hari H adalah PENSIL 2B ASLI. Percayakan pada merk pensil 2B yang sudah terbukti dan terbiasa digunakan dalam ujian.
  • Baca petunjuk pengisian lembar jawaban dengan baik-baik, tulis nama, nomor peserta/identitas lain, baru beri bulatan di bawahnya pada huruf dan angka yang sesuai.
  • Tenang dan pe de ngerjain tiap soal dengan telaten
  • Untuk tiap soal, pilihlah satu jawaban yang benar dengan membulatkan secara rapih dan penuh
  • Buat adik-adik SD, isi lembar jawabnya pake tanda silang (X) aja. Silang yang tebal yaa ….
  • Biasanya soal masing-masing peserta bisa berbeda, jadi … nyontek kayaknya sia-sia … bikin cape deh
  • Manfaatkan waktu yang tersisa untuk ngecek lagi jawaban kamu, nama kamu, nomor atau identitas kamu sekali lagi sebelum dikumpulkan.

 

Tips dan trick menghadapi ujian itu kami buat dalam bentuk brosur.  Macam-macam tanggapannya ketika saya bagi-bagiin sticker dan brosur   ke anak-anak SD . Ada yang senang, ada yang tanya bayar atau engga sebelum terima. Setelah dikasi tau kalau gratis, baru mau ambil. Ada yang berebutan, ada yang bilang belum dapat padahal tangan kirinya sudah pegang sticker, ada yang kembaliin karena dapat lebih dari satu. Ada yang bengal, berulang-ulang datang, katanya minta tempelan, maksudnya sticker. Saya tanya, mau kamu tempel di mana banyak-banyak ? Katanya, mau saya tempel di mobil. Sementara teman sebelahnya nyeletuk, emang elu punya mobil ? He hehe … trus di bengal ngejawab, iya mobil angkot ! Satu hal yang membuat saya senang atau mengarah ke geer adalah,   anak-anak SD itu dengan polos minta sticker sambil bilang, saya kak ! saya belum kak ! Ih gue dipanggil ‘kak’ ama anak SD. Ngga tau ya kalo saya seumuran ibu atau guru mereka.

 

h1

Makam Wangi

Februari 21, 2008

Bukan karena sekarang malam Jumat mangkanya saya cerita kuburan, suatu tempat yang kita takut-takut lewat dekatnya tapi pasti kita akan ada di sana pada saatnya.

Saya suka sebel juga sama orang yang dengan gaya sok cool bilang, isinya kan orang mati, ngapain takut, mereka toh udah ngga bisa ngapa-ngapain ! Iya sih emang bener. Tapi siapa yang kuper nggak pernah denger cerita seram tentang kuburan ?  Pingin tutup mata, pingin tutup telinga tapi tetep pingin juga mendengarkan orang cerita yang seram-seram. Efeknya, kita jadi takut sama kuburan.

 

Ingat masa dulu. Kalau sedang kumpul-kumpul di rumah teman atau ketika camping, salah satu kegiatan yang seru adalah mendengarkan cerita seram. Suasana jadi tegang. Dan kalau ada yang iseng bikin kaget sehingga para peserta pada menjerit. Hiiiiiiiiiiiiiiiiii …… Belum lagi setelah itu ada yang kecentilan minta dianterin pulang, padahal rumahnya di gang yang sama dengan tempat kumpul-kumpul.

 

Di jamannya sinetron seperti sekarang ini, cerita seram atau yang berhubungan dengan kuburan malah kok jadi memuakkan. Mungkin benar ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang jahat atau tidak beriman langsung mendapat balasannya ketika detik-detik menuju ajalnya.  Ada yang meninggalnya susah, ada yang kuburannya nggak muat-muat dimasukin jenasah, ada yang selalu keluar air di lubang kubur,  ah banyak deh. Ketika  sesekali kita mendengar atau melihat atau membaca cerita semacam itu, kita jadi diingatkan akan apa yang telah kita kerjakan di dunia ini. Dunia fana yang kita nggak tau berapa lama kita masih bisa berada di dalamnya sebelum kita jalan ke dunia abadi di akherat nanti. Tapi kalau cerita seperti ini merupakan hal rutin yang disiarkan tiap minggu, tiap stasiun tivi punya acara sejenis, tiap kita menyalakan remote kita diberi hidangan semacam ini, apa nggak muak jadinya ?  Tapi emang bener ya, apa-apa yang berlebih pasti memuakkan.

 

Kalau sekarang saya mau cerita,mudah-mudahan tidak memuakkan karena saya mau cerita tentang  kuburan juga. Cerita nyata yang terjadi beberapa minggu yang lalu. He .. He … bukan sinetron tapi ya. Baca entri selengkapnya »

h1

Pengarang Wanita Idola Saya

Februari 17, 2008

Kemana Leila ? Katanya sih, dia sekarang jadi reporter di Tempo. Saya sudah nggak pernah lagi baca tulisannya., karna saya tidak langganan majalah itu. Sempat beritanya saya dengar ketika ada sinetron Dunia Tanpa Koma. Tapi karena kesibukan ini itu, maka saya sama sekali tidak nonton sinetron yang ditulis olehnya. Kadang-kadang saya ingin juga kejutan kecil, seperti di Kompas Minggu beberapa saat yll ada tulisan tentang Linda Hoemar, sosok santun yang ketika SMA selalu memakai kaos kaki panjang menutupi betisnya dan tetap pakai rok melebihi lutut, di saat teman-teman yang lain memotong pendek rok mereka. Kapan, ya Leila Chudori, sang reporter itu diwawancara di Kompas juga?

 Saya mengenal, dalam tanda petik, Leila Shalika Chudori melalui tulisan-tulisannya yang begitu mempersona masa remaja saya. Kalau remaja sekarang mengenal sosok Rachmania Arunita dengan chicklit Eiffel I’m in Love, tahun 80an ada Leila Chudori yang aktif menulis di majalah anak-anak dan remaja.

 Meski sama-sama di Jakarta, saya nggak pernah ketemu Leila, tapi saya tahu dia mulai menulis kelas lima SD. Ketika SMP tulisannya banyak dimuat di Kawanku. Malah di majalah Kawanku ada halaman khusus buat tanya jawab dengan dia. Dari situ saya tau kalau cita-citanya adalah menjadi dokter. Pengarang favoritnya Arswendo Atmowiloto dan Djokolelono.Leilapun rajin latihan karate. Kemudian setelah masuk SMA dia aktif menulis di majalah Gadis. Kadang menulis cerpen, cerbung dan sekali-kali ada novelletnya yang jadi sisipan majalah remaja itu. Leila bertutur dengan bahasa Indonesia yang baik, segar dan kadang jenaka. Menurut saya, tokoh Aku atau pemeran utama di tulisannya adalah gambaran tentang sosok dirinya. Sosok remaja tangguh, pintar, riang, baik hati, punya kelompok yang kompak dengannya dan juga punya saingan sombong dan judes yang di akhir cerita jadi teman atau loser.

Leila tambah memukau saya ketika dia ikut semacam camp di Canada. Dia menulis artikel pengalamannya itu dalam beberapa seri di majalah Gadis. Pengalamannya semakin lengkap ketika dia bercerita tentang Pangeran Charles yang datang ke camp tersebut. Sebagai gadis kecil,melihat apa yang diraih Leila di usianya, membuat saya mengidolakan dia.Semuanya saya tahu dari membaca.Lebih duapuluh tahun berlalu. Apa yang saya baca ketika kecil masih mengendap di sela-sela memori-memori lain di otak saya, tiba-tiba pop-up begitu saja mengalir seperti baru kemarin saya membeli majalah Gadis di atas metromini S76 atau di terminal Blok M sepulang sekolah.

Ketika saya ketika lulus SMA,saya mulai kehilangan teman satu satu. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri, ada yang swasta, ada yang ke luar negeri, ada yang jadi preman di Blok M, ada pula yang nikah dengan pacarnya. Ketika Leila lulus SMA, saya seperti adik kelas yang dilupakan. Dia pasti sibuk ingin meraih cita-cita jadi dokter. Atau mungkin dia punya back-up cita-cita yang lain. Saya kehilangan Leila seperti saya kehilangan teman-teman yang lain. Leilapun tidak lagi menulis di Gadis.

Setelah Leila, ada satu penulis remaja favorit saya waktu itu . Namanya Oriza Safitri. Hampir tiap terbitan majalah Gadis memuat tulisan segar menawan hati yang ending-nya nggak pernah diduga. Oriza cerita tentang romansa gali Jogja, orang-orang bertatoo yang jadi sasaran tembak di pertengahan 80an. Oriza cerita tentang lelaki yang ditinggal mati tunangannya. Oriza punya banyak cerita yang terasa membekas di hati saya.

Sayangnya, Oriza hanya sempat mampir sebentar di Gadis, karena ada yang lebih sayang dengannya. Pada suatu ketika, Oriza yang kuliah dan kost di Jogja sakit dan tidak tertolong lagi. Kisah hidupnya hampir sama dengan kisah-kisah cerpen yang sering ditulis olehnya. Dia pergi ketika perlahan sedang menapaki tangga kehidupan. Belum sampai puncak, Oriza mati muda.

Selain Leila dan Oriza yang waktu itu ‘gue banget’, sesungguhnya pengarang wanita yang begitu ingin saya mengumpulkan semua karyanya adalah Nurhayati Srihardini, atau NH Dini. Siapa yang tidak tahu beliau ? Saya baca buku NH Dini berjudul Pada Sebuah Kapal waktu kelas 2 SMP.

Kalau kita ke Gramedia, novel-novel NH Dini masuk dalam katagori ‘Sastra’. Yah, dia bukan hanya penulis, dia memang sastrawati yang menurut saya belum ada tandingannya di Indonesia. NH Dini menulis seperti orang sedang curhat. Dari masa muda hingga kini, dia masih konsisten menulis dan menerbitkan kisah fiksinya.

Pada seri kenangan yang terbit tahun 2007 ini, dia sangat terbuka bercerita tentang keluarganya. Kadang, di kala mungkin saya bertemu dengannya, ingin saya tanya apa benar ada sebagian atau seluruh kisah Sri, Rina atau juga Hiroko yang jadi pemeran utama di bukunya adalah cerita kehidupannya sendiri. Apakah kisah di La Grande Borne adalah benar-benar kisah hidupnya.

Di bukunya, saya menemukan kegetiran hidup seorang wanita yang senantiasa berusaha tegar, luluh oleh kelembutan hati orang lain yang bukan pasangan resminya. Wanita di tangan NH Dini bukannya sosok superwoman yang nggak butuh laki-laki. Ibu Dini begitu pandai berkata-kata dalam tulisannya, dia tahu bagaimana menyusun kalimat sehingga adegan mesra tidak perlu ditulis detail, yang acap memberi kesan murahan. Dia punya cara yang elegan. Mudah-mudahan Ibu Dini dikaruniai usia yang panjang, yang memungkinkan dia kembali menulis kisah sespektakuler Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko ataupun La Barka.

Salam saya buat Leila dan Bu Dini. Semoga Oriza istirahat dengan damai di sisi-Nya.

h1

Di Mimpi Saya Totto Chan Bertemu Bersihar Lubis

Desember 17, 2007

Minggu pagi yang cerah setelah semalaman hujan membuat saya tiba-tiba menjadi was-was dengan tumpukan kerdus yang belum sempat saya bongkar sejak pindahan rumah 7 tahun yang lalu ! Awalnya memang cuma enam kerdus, tapi lama-lama nambah kerdus-kerdus bekas belanjaan, kain-kain yang nggak kepakai, keset, kaleng-kaleng cat, sama lainnya banyak deh ! Sebenarnya saya sudah lama pingin beresin, tapi kerap dikalahkan kegiatan lain . Minggu pagi kemarin, saya niatin untuk membereskan semuanya. Kalau ada yang masih bisa kepakai ya dipakai. Kalau masih sayang dibuang mau saya simpan dulu di gudang, kalau sudah rela dibuang ya dibuang. Begitu rencananya.

Di kerdus pertama saya ketemu brosur-brosur perjalanan jaman dulu kala. Nggak kepikiran untuk dibuang. Kerdus kedua saya ketemu majalah-majalah tahun 2000, Cosmo, Asri, Gatra, Matra, ehem… yang ada Inneke dengan pose yang kadang masih dibicarakan hingga kini. Di kerdus yang ketiga saya sedetik terpekik senang karena menemukan buku tercinta Totto-Chan Gadis Kecil di Jendela karangan Tetsuko Kuroyanagi. Tau Totto-Chan, kan ? Kalau nggak tau berarti ketinggalan jaman, ah.

Oke, saya nggak cerita tentang Totto-Chan karena sudah banyak yang mengulasnya. Tapi saya suka banget sama buku ini. Saya ketemu Totto-Chan di toko buku Scientific di Blok M secara ngga sengaja sekitar tahun 90-an. Tapi saya nggak langsung beli buku itu. Beli kan pake duit, waktu itu saya nggak ada duit. Kesian, ya. Setelah saya kerja satu tahun kemudian, baru saya beli.

Di antara buku-buku yang saya beli, Totto-Chan adalah buku favorit saya. Hari minggu ini, setelah bertahun-tahun, saya ketemu lagi sama buku ini. Oyah, tadi saya katakan sedetik saya terpekik senang. Tapi, detik berikutnya saya sebel seee sebel sebelnya, karena buku wajah Totto-Chan di sampul buku itu bopengan ! Dan ketika buku itu saya balik, ternyata bagian belakangnya sudah jadi santapan nikmat para rayap, bentuknya seperti sundel bolong ! Nggak cuma buku itu, sih yang kena. Ada beberapa buku dibolongi dengan sukses oleh para rayap. Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad malah lebih parah. Bolong seperti terowongan ! Saman-nya Ayu Utami selamat ! Huh .. kalau harus memilih antara Totto dan Saman, saya pilih Totto yang selamat.

Sayang sekali harus membuang buku-buku itu. Pertama, buku adalah harta saya yang tidak ternilai[ehem] , kedua kalau beli lagi pasti harganya sudah berlipat-lipat. Ketiga, saya nggak rela harus kehilangan buku-buku bagus itu. Keempat, apalagi kalau bukan Kerakyatan yang dipimpin oleh … halllaahh !

Saya pandangi buku Totto-Chan dan yang lain. Saya bersihkan tanah-tanah yang menempel. Saya foto pakai kamera handphone, setidaknya sebelum saya buang saya ada bukti otentik pernah memiliki buku-buku itu. Saya seakan sedang melakukan perpisahan yang mengharukan. Saya merasa sangat bersalah sudah membiarkan buku-buku itu sekian lama berteman dengan rayap. Ada pikiran buat scan buku yang masih bisa diambil informasinya tapi tidak layak simpan karena sudah ada kandungan rayapnya. [Hendra, ini bukan jualan, ya. Eh tapi kalau ada yang mau ikutin jejak saya bisa ikutan nye-scan … uppppss .. out of topic !!].

Cukup lama waktunya saya memandang, menyentuh, membersihkan buku-buku yang ternoda itu. Tapi masih sisa beberapa kerdus yang harus saya seleksi. Untungnya rayap hanya suka Totto-Chan, imut kali ya gambar Totto-nya. Dokumen-dokumen lain selamat !

Saya lalu mengkelompokkan kertas-kertas, majalah, buku cerita, buku teks, buku kuliah, foto kopian, brosur-brosur. Saya menguatkan hati untuk membuang. Hati saya terlalu melankolis untuk berpisah dengan barang-barang tersebut. Tidak bisa !!!! ….. Saya tidak bisa membuangnya !!! Huuu …. Huuu ….huuu ….. Sinetron banget ! Tapi memang tidak bisa ! Atau, belum bisa kali yee …

Saya lalu teringat aksi pembakaran 1340 buku sejarah di Bogor. Kok bisa yaaa ?? Gara-gara nggak ngebahas PKI ? Oke kalo itu. Toh sejarah harus dibuat dengan sejelas-jelasnya. Tapi dibakar ? Aihh too much deeh …. Saya aja nggak tega buang satu buku ,itu juga gara-gara kena rayap, ini 1340 buku ??? Dibakar ??? Nggak salah kalau Bersihar Lubis bilang orang-orang yang bakar itu ‘dungu’.

***

Totto-Chan yang riang gembira bisa-bisanya ketemu sama om Sihar. Mereka lalu ngobrol sambil memandangi tempat sampah di mana bukunya bersemayam bersama hasil kremasi 1340 buku sejarah.

Totto : Om, saya sedih nih. Saya ada di tong sampah sekarang gara-gara nggak diurusin sama yang beli buku saya.

Om Sihar : Bah, kurang ajar !! Tak bedalah kalian semua orang-orang dungu !!!

Hooopppsss …. Totto melonjak kaget. Nggak disangka ngomong sama orang Batak galak banget menurutnya. Dia kan orang Jepang yang penuh tata krama, sopan santun dan lemah lembut! Untungnya Totto anak manis yang nggak cengeng. Nggak ngambek dibentak Batak. Nggak langsung ngadu ke Kaisar Hirohito.

Saya juga kaget. Saya pikir mimpi saya akan panjangan dikit, setidaknya ada alur ceritanya,ada apanya kek. Ada bunga-bunganya, kek. Ada acara makan dorayaki,kek. Pemanasan lah. Kaget, kan kalau langsung dibilang dungu.

h1

Cita-cita Saya

Nopember 27, 2007

” Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan berusahalah untuk menggapainya “

Jadul banget ya kedengarannya. Dulu masa-masa SD ketika saling isi Buku Kenangan, yang biasanya terdiri dari kolom-kolom curriculum vitae nama, alamat, tempat tanggal lahir, cita-cita, juga ada kolom ‘kata kenangan’. Ngga tau yang mulai siapa, banyak teman-teman saya yang mengisi kolom kata kenangan dengan ” gantungkan cita-citamu di langit”.

Setelah lama tidak mempersoalkan cita-cita, sekarang akhirnya saya pakai quote tersebut untuk memotivasi Fachry yang sekarang sudah kelas 2. Gurunya bilang kalau Fachry musti sering dimotivasi dan dibimbing agar bisa mengerjakan soal-soal. Di rumah dia malas-malasan belajar. Ketika diajak belajar, alasannya ngantuk. Kadang-kadang saya berhasil memotivasi dia , tapi besoknya sudah lupa belajar. Padahal minggu depan ada EHB.

Dulu Fachry pernah menggantungkan cita-citanya setinggi langit beneran. Dia ingin jadi pilot. Dia tambah bersemangat jadi pilot setelah ketika dalam perjalanan pulang dari Makassar dia diundang melongok ke cockpit pesawat. Pak Pilot dan Pak Co Pilot menyalaminya. Foto Fachry menggunakan topi pilot yang kebesaran bersama-sama kedua pilot dilatarbelakangi panel-panel cockpit pesawat dipajang beberapa lama. Itu dua tahun yang lalu.

Sekarang cita-citanya jadi polisi. Nggak tau apa yang membuatnya ingin jadi polisi. Yang pasti dia senang lihat polisi mengatur lalu lintas atau menangkap penjahat seperti di filem-filem. Saya pernah bilang kalau jadi polisi bakalan kepanasan atau malah kehujananan di jalan. Dia diam saja. Beberapa hari berlalu, ketika ditanya cita-citanya, dia masih tetap ingin jadi polisi.

Saya bilang Fachry, kalau mau jadi polisi harus pandai berhitung.

“Apa itu berhitung ?” tanya Fachry.

Saya kasih tau kalau berhitung itu sama dengan Matematika. Fachry juga harus pandai IPA.

“Apa itu IPA ?” tanyanya lagi.

“IPA itu Sain,” jawab saya.

“Oke, aku mau belajar. Tapi sebentar aja ya soalnya aku mau main Naruto,” katanya mencoba menawar.

“Ayo kita belajar perkalian ,” kata saya memulai pelajaran.

Baru satu kali satu sama dengan satu, dua kali satu sama dengan dua, dia berkata sambil lari ke kamar

” Bu, aku mau liat adik sudah tidur atau belum ya, aku mau sayang dulu.”

Yah…. bubar deh pelajaran hari ini !

Ketika makan malam berdua, kami melanjutkan obrolan. Saya cerita tentang Kidzania, tempat bermain baru dimana anak-anak bisa berperan sesuai dengan profesi yang dia mau. Saya janji setelah EHB Fachry akan diajak ke sana.
 

“Aku bisa jadi polisi, ya bu ?” tanyanya.
 

“Bisa. Fachry dipinjemin baju polisi kalau mau jadi polisi. Fachry bisa pilih jadi pilot, petugas pemadam kebakaran, dokter dan lain-lain,” jawab saya.
 

“Tapi nanti aku diajarin dulu ya ?” tanyanya.

“Iya. Ada kakak-kakak yang ngajarin,” kata saya, meski saya juga belum begitu jelas aturan main di sana.

“Bu, nanti aku mau belajar bahasa Inggris ya,” katanya.

“Oke.”

“Soalnya nanti kalau penjahatnya orang Inggris, masa polisinya nggak ngerti mau ngomong apa,” katanya sambil tertawa-tawa. Ha ha ha … lucu juga.
 
*** 

Memiliki cita-cita setinggi langit adalah hal yang mudah. Tinggal bilang mau jadi pilot, astronot, dokter, antropolog, apoteker, pengolah limbah, tukang kue dan sebagainya. Masalahnya adalah gimana supaya cita-cita itu tercapai. Kadang-kadang, kita musti ukur diri juga untuk menentukan cita-cita atau target lainnya. Cari aman lah.
 

Ini pernah saya alami ketika presentasi program untuk suatu jabatan di Pramuka, yaitu jadi Pratama Putri, jabatan prestisius yang jadi incaran semua orang. Saya musti buat program. Buat saya, program itu adalah suatu target yang harus kita capai dalam tempo satu tahun. Kalau saya buatnya ketinggian, kan cuma lip service aja. Saya mau buat yang setahun ini bisa dijalankan sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan organisasi kami. Karena target program saya begitu sederhana dan rival saya punya target yang lebih bombastis, akhirnya saya kalah.
 

Mau tau program saya apa ? Begini. Buat saya yang masih SMP kala itu, naik gunung adalah sesuatu yang prestisius, keren, asik banget. Tadinya saya mau tulis program naik gunung. Cuma kok kayaknya saya nggak yakin kita bisa melakukannya. Akhirnya program untuk jadi Pratama Putri saya ubah jadi NAIK BUKIT !
 

Tau kan jadinya ? Baca entri selengkapnya »